Kamis, 18 Juli 2013

Cara Root Sony Xperia S

Cara Root Sony Xperia S
Android rooting adalah proses yang memungkinkan pengguna smartphone, tablet, dan perangkat lain yang menjalankan sistem operasi Android mobile untuk mencapai kontrol istimewa (dikenal sebagai "akses root") dalam subsistem Android. Rooting sering yang dilakukan dengan dengan tujuan mengatasi keterbatasan smartphone termasuk Sony Xperia S ini. sehingga kita dapat untuk mengubah atau mengganti aplikasi & File Sistem dan pengaturannya, dapat menjalankan aplikasi khusus yang membutuhkan izin dari Super User yaitu sebuah aplikasi yang didapat sesudah Rooting Sony Xperia S, atau melakukan operasi lain yang tidak dapat diakses oleh pengguna Android Khususnya Sony Xperia S yang belum di Root Sony Xperia S nya. Sekarang kita langsung bahas tentang Cara Root Sony Xperia S.

Download File Root :


Pastikan USB Debugging dan Unknown Source sudah tercentang. Gimana caranya ?
  • Untuk USB Debugging : Go to Setting>Developer Options>ceklis Usb Debugging
  • Untuk Unknown Source : Go to Settings>Security>ceklis Unknown Sources
Langkah Rooting :
  1. Sony Xperia S Sudah ICS / Jelly Bean
  2. Ekstrak File-Root-Xperia-S.7z kemanapun anda suka
  3. Lalu jika sudah di ekstrak, colokin Sony Xperia S ke kompi / Laptop
  4. Buka Runme.bat
  5. Lalu ketik “1” tanpa tanda petik untuk memilih Mode Normal
  6. Tunggu beberapa saat, perhatikan layar Xperia S anda. Nanti akan muncul tampilan yg bacaannya ada Restorenya gitu.
  7. Gak usah isi apa2, langsung aja tap Restore pada Xperia anda.
  8. Tunggu aja, nanti bakalan restart sendiri.
  9. Akan terjadi restart otomatis selama 2 kali. Dan jika berhasil, akan ada aplikasi SuperSU.
  10. Finish

Source : http://ninjakandangan.blogspot.com/2013/01/cara-root-sony-xperia-s.html
READ MORE - Cara Root Sony Xperia S Read more...

Cara Root Sony Xperia Tipo Single / Dual


Cara Root Sony Xperia Tipo Single / Dual
Android rooting adalah proses yang memungkinkan pengguna smartphone, tablet, dan perangkat lain yang menjalankan sistem operasi Android mobile untuk mencapai kontrol istimewa (dikenal sebagai "akses root") dalam subsistem Android. Rooting sering yang dilakukan dengan dengan tujuan mengatasi keterbatasan smartphone termasuk Sony Xperia Tipo ini. sehingga kita dapat untuk mengubah atau mengganti aplikasi & File Sistem dan pengaturannya, dapat menjalankan aplikasi khusus yang membutuhkan izin dari Super User yaitu sebuah aplikasi yang didapat sesudah Rooting Sony Xperia Tipo, atau melakukan operasi lain yang tidak dapat diakses oleh pengguna Android Khususnya Sony Xperia Tipo yang belum di Root Sony Xperia Tipo nya. Sekarang kita langsung bahas tentang Cara Root Sony Xperia Tipo.

Download File Root :


Cara Root Sony Xperia Tipo Single & Dual Sama, Asal Firmware Terbaru dan OS ICS / Jelly Bean

Pastikan USB Debugging dan Unknown Source sudah tercentang. Gimana caranya ?
  • Untuk USB Debugging : Go to Setting>Developer Options>ceklis Usb Debugging
  • Untuk Unknown Source : Go to Settings>Security>ceklis Unknown Sources
Langkah Rooting :
  1. Ekstrak File-Root-Xperia-Tipo.7z kemanapun anda suka
  2. Lalu jika sudah di ekstrak, colokin Sony Xperia Tipo ke kompi / Laptop
  3. Buka Runme.bat
  4. Lalu ketik “1” tanpa tanda petik untuk memilih Mode Normal
  5. Tunggu beberapa saat, perhatikan layar Xperia Tipo anda. Nanti akan muncul tampilan yg bacaannya ada Restorenya gitu.
  6. Gak usah isi apa2, langsung aja tap Restore pada Xperia Tipo anda.
  7. Tunggu aja, nanti bakalan restart sendiri.
  8. Akan terjadi restart otomatis selama 2 kali. Dan jika berhasil, akan ada aplikasi SuperSU.
  9. Finish

Source : http://ninjakandangan.blogspot.com/2013/01/cara-root-sony-xperia-tipo-single-dual.html
READ MORE - Cara Root Sony Xperia Tipo Single / Dual Read more...

Cara Root Samsung Galaxy S 3 III Mini

Cara Root Samsung Galaxy S 3 III Mini
Android rooting adalah proses yang memungkinkan pengguna smartphone, tablet, dan perangkat lain yang menjalankan sistem operasi Android mobile untuk mencapai kontrol istimewa (dikenal sebagai "akses root") dalam subsistem Android. Rooting sering yang dilakukan dengan dengan tujuan mengatasi keterbatasan smartphone termasuk Samsung Galaxy S 3 Mini ini. sehingga kita dapat untuk mengubah atau mengganti aplikasi & File Sistem dan pengaturannya, dapat menjalankan aplikasi khusus yang membutuhkan izin dari Super User yaitu sebuah aplikasi yang didapat sesudah Rooting Galaxy  S 3 Mini , atau melakukan operasi lain yang tidak dapat diakses oleh pengguna Android Khususnya Galaxy  S 3 Mini  yang belum di Root Galaxy  S 3 Mini  nya. Sekarang kita langsung bahas tentang Cara Root Samsung  Galaxy S III GT-I8190 .

Cara Root Samsung Galaxy S III Mini

Segala yang kita lakukan tidak ada yang tidak beresiko. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, dan kami tidak bertanggung jawab jika terjadi kesalahan.

  1. Download Firmware Rooted Samsung Galaxy S 3 Mini, download klik disini
  2. Setelah selesai di download, Extract file tersebut. Maka kamu akan menemukan file firmware yang berbentuk .tar
  3. Download Odin 3 disini. Extract hasil download dan simpan aplikasi Odin tersebut di PC atau laptop kamu.
  4. Sekarang matikan Samsung Galaxy S 3 Mini kamu, dan masuk ke Download mode. caranya hidupkan Samsung Galaxy S 3 Mini kamu sambil menekan tombol Volume Down, Home dan Power
  5. Setelah itu hubungkan Samsung Galaxy Mini 3 kamu ke PC atau Laptop tadi menggunakan USB, pastikan semua Driver sudah diinstall di PC atau Laptop kamu.
  6. Jika sudah, Buka Odin 3
  7. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, tab com di jendela Odin akan kuning. Jika tidak menyala kuning tandanya Samsung Galaxy S 3 Mini kamu belum bisa di diteksi sama Odin, Pastikan Driver yang dibutuhkan terinstall.
  8. Sekarang klik pada PDA, kemudian masukkan file firmware berbentuk .tar tadi yang kamu download di step pertama.
  9. Jika sudah, klik Start dan tunggu proses flashing firmware selesai.
  10. Jika sudah Samsung Galaxy Mini 3 Kamu akan Reboot sendiri dan menggunakan Firmware yang sudah Root
  11. Selesai 

Source : http://ninjakandangan.blogspot.com/2013/02/cara-root-samsung-galaxy-s-3-iii-mini.html
  1.  
READ MORE - Cara Root Samsung Galaxy S 3 III Mini Read more...

Cara Root Sony Xperia J

Cara Root Sony Xperia J

Android rooting adalah proses yang memungkinkan pengguna smartphone, tablet, dan perangkat lain yang menjalankan sistem operasi Android mobile untuk mencapai kontrol istimewa (dikenal sebagai "akses root") dalam subsistem Android. Rooting sering yang dilakukan dengan dengan tujuan mengatasi keterbatasan smartphone termasuk Sony Xperia J ini. sehingga kita dapat untuk mengubah atau mengganti aplikasi & File Sistem dan pengaturannya, dapat menjalankan aplikasi khusus yang membutuhkan izin dari Super User yaitu sebuah aplikasi yang didapat sesudah Rooting Sony Xperia J, atau melakukan operasi lain yang tidak dapat diakses oleh pengguna Android Khususnya Sony Xperia J yang belum di Root Sony Xperia J nya. Sekarang kita langsung bahas tentang Cara Root Sony Xperia J.

Sebelum melakukan rooting, ada beberapa syarat yang perlu kita siapkan. Yaitu :
  • Flashtool
  • Driver XJ
  • Laptop / Komputer, Bisa dibeli di Toko PC Terdekat. Atau bisa juga ke Warnet, Paling 2.500 Perjam
Langkah Persiapannya :
  1. Install flashtool di computer (Windows)
  2. Jika sudah selesai, buka C:\Flashtool\drivers
  3. Install lagi Flashtool-drivers.exe yang ada di folder drivers. Ceklis semua drivernya
  4. Jika sudah selesai, extract DriverXJ.zip, maka akan menghasilkan folder ST26
  5. Copy folder ST26 ke dalam folder C:\Flashtool\devices
  6. Restart komputer anda
  7. Persiapan selesai
Loh, kok mau rooting aja syaratnya banyak? Harus download file yg gede pula? Tenang dulu juragan. File2 diatas itu memang yang wajib kita miliki di dunia Android Xperia. Jika kita sudah memiliki file itu, maka kedepannya kita tidak perlu repot lagi.
Rooting Sony Xperia J
Pastikan USB Debugging dan Unknown Source sudah tercentang. Gimana caranya ?
  • Untuk USB Debugging : Go to Setting>Developer Options>ceklis Usb Debugging
  • Untuk Unknown Source : Go to Settings>Security>ceklis Unknown Sources
Langkah Rooting :
  1. Pastikan Syarat Wajib diatas sudah dilakukan
  2. Ekstrak Root_J.zip kemanapun anda suka
  3. Lalu jika sudah di ekstrak, colokin XJ ke kompi
  4. Buka Runme.bat
  5. Lalu ketik “1” tanpa tanda petik untuk memilih Mode Normal
  6. Tunggu beberapa saat, perhatikan layar HH anda. Nanti akan muncul tampilan yg bacaannya ada Restorenya gitu.
  7. Gak usah isi apa2, langsung aja tap Restore pada HH anda.
  8. Tunggu aja, nanti bakalan restart sendiri.
  9. Akan terjadi restart otomatis selama 2 kali. Dan jika berhasil, akan ada aplikasi SuperSU.
  10. Finish
Cara Root ini hanya berfungsi pada Firmware 11.0.A.3.18 dan 11.0.A.3.28.


Source : http://ninjakandangan.blogspot.com/2012/12/cara-root-sony-xperia-j.html
READ MORE - Cara Root Sony Xperia J Read more...

Cara Root Sony Xperia Go


Cara Root Sony Xperia Go

Android rooting adalah proses yang memungkinkan pengguna smartphone, tablet, dan perangkat lain yang menjalankan sistem operasi Android mobile untuk mencapai kontrol istimewa (dikenal sebagai "akses root") dalam subsistem Android. Rooting sering yang dilakukan dengan dengan tujuan mengatasi keterbatasan smartphone termasuk Sony Xperia Go ini. sehingga kita dapat untuk mengubah atau mengganti aplikasi & File Sistem dan pengaturannya, dapat menjalankan aplikasi khusus yang membutuhkan izin dari Super User yaitu sebuah aplikasi yang didapat sesudah Rooting Sony Xperia Go, atau melakukan operasi lain yang tidak dapat diakses oleh pengguna Android Khususnya Sony Xperia Go yang belum di Root Sony Xperia Go nya. Sekarang kita langsung bahas tentang Cara Root Sony Xperia GO.

Download File Root :


Pastikan USB Debugging dan Unknown Source sudah tercentang. Gimana caranya ?
  • Untuk USB Debugging : Go to Setting>Developer Options>ceklis Usb Debugging
  • Untuk Unknown Source : Go to Settings>Security>ceklis Unknown Sources
Langkah Rooting :
  1. Firmware Terbaru - dan OS Terbari (ICS Or JB)
  2. Ekstrak File-Root-Xperia-Go.7z kemanapun anda suka
  3. Lalu jika sudah di ekstrak, colokin Sony Xperia Go ke kompi / Laptop
  4. Buka Runme.bat
  5. Lalu ketik “1” tanpa tanda petik untuk memilih Mode Normal
  6. Tunggu beberapa saat, perhatikan layar Xperia Go anda. Nanti akan muncul tampilan yg bacaannya ada Restorenya gitu.
  7. Gak usah isi apa2, langsung aja tap Restore pada Xperia Go anda.
  8. Tunggu aja, nanti bakalan restart sendiri.
  9. Akan terjadi restart otomatis selama 2 kali. Dan jika berhasil, akan ada aplikasi SuperSU.
  10. Finish

Source :  http://ninjakandangan.blogspot.com/2013/01/cara-root-sony-xperia-go.html
READ MORE - Cara Root Sony Xperia Go Read more...

Selasa, 16 Juli 2013

Wong CherBond

Orang Cirebon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Orang/Etnis Cirebon
Jumlah populasi
Sekitar 1,9 juta (sensus 2000)[1]
Kawasan dengan populasi yang signifikan
Jawa Barat
Bahasa
Bahasa Cirebon, Bahasa Sunda Cirebon, Bahasa Indonesia
Agama
Islam
Orang atau Etnis Cirebon atau Suku Bangsa Cirebon adalah kelompok etnis yang tersebar di sekitar Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka sebelah utara atau biasa disebut sebagai Wilayah "Pakaleran", Kabupaten Kuningan sebelah utara, Kabupaten Subang sebelah utara mulai dari Blanakan, Pamanukan, hingga Pusakanagara dan sebagian Pesisir utara Kabupaten Karawang mulai dari Pesisir Pedes hingga Pesisir Cilamaya di Provinsi Jawa Barat dan di sekitar Kec. Losari di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Berjumlah sekitar 1,9 juta. Masyarakat Suku Cirebon memeluk agama Islam. Bahasa yang dituturkan oleh orang Cirebon adalah gabungan dari Bahasa Jawa, Sunda, Arab dan China yang mereka sebut sebagai Bahasa Cirebon.

Daftar isi

Pengakuan Suku Bangsa Tersendiri

Pada mulanya keberadaan Etnis atau Orang Cirebon selalu dikaitkan dengan keberadaan Suku Sunda dan Jawa, namun kemudian eksistensinya mengarah pada pembentukan budaya tersendiri, mulai dari ragam batik pesisir yang tidak terlalu mengikuti pakem keraton jawa atau biasa disebut batik pedalaman hingga timbulnya tradisi-tradisi bercorak islam sesuai dengan dibangunnya keraton cirebon pada abad ke 15 yang berlandaskan islam 100%. eksistensi dari keberadaan suku atau orang cirebon yang menyebut dirinya bukan suku sunda ataupun suku jawa akhirnya mendapat jawaban dari sensus penduduk tahun 2010 dimana pada sensus penduduk tersebut tersedia kolom khusus bagi Suku bangsa Cirebon, hal ini berarti keberadaan suku bangsa cirebon telah diakui secara nasional sebagai sebuah suku tersendiri, menurut Erna Tresna Prihatin

Indikator itu (Suku Bangsa Cirebon) dilihat dari bahasa daerah yang digunakan warga Cirebon tidak sama seperti bahasa Jawa atau Sunda. Masyarakat Cirebon juga punya identitas khusus yang membuat mereka merasa sebagai suku bangsa sendiri. Penunjuk lainnya yang mencirikan seseorang sebagai suku bangsa Cirebon adalah dari nama-namanya yang tidak seperti orang Jawa ataupun Sunda. Namun, belum ada penelitian lebih lanjut yang bisa menjelaskan tentang karakteristik identik tentang suku bangsa Cirebon. Untuk menelusuri kesukuan seseorang, hal itu bisa dilakukan dengan garis keturunan ayah kandungnya. Selain itu, jika orang itu sudah merasa memiliki jiwa dan spirit daerah itu (daerah suku bangsa cirebon) maka dia berhak merasa sebagai suku yang dimaksud
.[2]

Bahasa

Dahulu Bahasa Cirebon ini digunakan dalam perdagangan di pesisir Jawa Barat mulai Cirebon yang merupakan salah satu pelabuhan utama, khususnya pada abad ke-15 sampai ke-17. Bahasa Cirebon dipengaruhi pula oleh budaya Sunda karena keberadaannya yang berbatasan langsung dengan wilayah kultural Sunda, khususnya Sunda Kuningan dan Sunda Majalengka dan juga dipengaruhi oleh Budaya China, Arab dan Eropa hal ini dibuktikan dengan adanya kata "Taocang (Kuncir)" yang merupakan serapan China, kata "Bakda (Setelah)" yang merupakan serapan Bahasa Arab dan kemudian kata "Sonder (Tanpa)"[3] yang merupakan serapan bahasa eropa (Belanda). Bahasa Cirebon mempertahankan bentuk-bentuk kuno bahasa Jawa seperti kalimat-kalimat dan pengucapan, misalnya ingsun (saya) dan sira (kamu) yang sudah tak digunakan lagi oleh bahasa Jawa Baku.

Perdebatan Bahasa Cirebon (Dialek Bahasa Jawa atau Bahasa Mandiri)

Perdebatan tentang Bahasa Cirebon sebagai Sebuah Bahasa yang Mandiri terlepas dari Bahasa Sunda dan Jawa telah menjadi perdebatan yang cukup Panjang, serta melibatkan faktor Politik Pemerintahan, Budaya serta Ilmu Kebahasaan.

Bahasa Cirebon Sebagai Sebuah Dialek Bahasa Jawa

Penelitian menggunakan kuesioner sebagai indikator pembanding kosakata anggota tubuh dan budaya dasar (makan, minum, dan sebagainya) berlandaskan metode Guiter menunjukkan perbedaan kosa kata bahasa Cirebon dengan bahasa Jawa di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 75 persen, sementara perbedaannya dengan dialek di Jawa Timur mencapai 76 persen.[4] Untuk diakui sebagai sebuah bahasa tersendiri, suatu bahasa setidaknya membutuhkan sekitar 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya.[4]
Meski kajian Linguistik sampai saat ini menyatakan bahasa Cirebon ”hanyalah” dialek (Karena Penelitian Guiter mengatakan harus berbeda sebanyak 80% dari Bahasa terdekatnya), namun sampai saat ini Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 masih tetap mengakui Cirebon sebagai bahasa dan bukan sebagai sebuah dialek. Dengan kata lain, belum ada revisi terhadap perda tersebut. Menurut Kepala Balai Bahasa Bandung Muh. Abdul Khak, hal itu sah-sah saja karena perda adalah kajian politik. Dalam dunia kebahasaan menurut dia, satu bahasa bisa diakui atas dasar tiga hal. Pertama, bahasa atas dasar pengakuan oleh penuturnya, kedua atas dasar politik, dan ketiga atas dasar Linguistik.
Bahasa atas dasar politik, contoh lainnya bisa dilihat dari sejarah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang sebenarnya berakar dari bahasa Melayu, seharusnya dinamakan bahasa Melayu dialek Indonesia. Namun, atas dasar kepentingan politik, akhirnya bahasa Melayu yang berkembang di negara Indonesia –oleh pemerintah Indonesia– dinamakan dan diklaim sebagai bahasa Indonesia. Selain alasan politik, pengakuan Cirebon sebagai bahasa juga bisa ditinjau dari batasan wilayah geografis dalam perda itu. Abdul Khak mengatakan, Cirebon disebut sebagai dialek jika dilihat secara nasional dengan melibatkan bahasa Jawa.
Artinya, ketika perda dibuat hanya dalam lingkup wilayah Jabar, Cirebon tidak memiliki pembanding kuat yaitu bahasa Jawa. Apalagi, dibandingkan dengan bahasa Melayu Betawi dan Sunda, Cirebon memang berbeda.[5]

Bahasa Cirebon sebagai Bahasa Mandiri

Revisi Perda, sebenarnya memungkinkan dengan berbagai argumen linguistik. Namun, kepentingan terbesar yang dipertimbangkan dari sisi politik bisa jadi adalah penutur bahasa Cirebon, yang tidak mau disebut orang Jawa maupun orang Sunda. Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon Nurdin M. Noer mengatakan, bahasa Cirebon adalah persilangan bahasa Jawa dan Sunda. Meskipun dalam percakapan orang Cirebon masih bisa memahami sebagian bahasa Jawa, dia mengatakan kosakata bahasa Cirebon terus berkembang tidak hanya ”mengandalkan” kosa kata dari bahasa Jawa maupun Sunda.
”Selain itu, bahasa Cirebon sudah punya banyak dialek. Contohnya saja dialek Plered, Jaware, dan Dermayon,” ujarnya. Jika akan dilakukan revisi atas perda tadi, kemungkinan besar masyarakat bahasa Cirebon akan memprotes.
Pakar Linguistik Chaedar Al Wasilah pun menilai, dengan melihat kondisi penutur yang demikian kuat, revisi tidak harus dilakukan. justru yang perlu dilakukan adalah melindungi bahasa Cirebon dari kepunahan..[6]

Kosakata

Sebagian besar kosa kata asli dari bahasa ini tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta/Yogyakarta) baik secara morfologi maupun fonetik. Memang bahasa Cirebon yang dipergunakan di Cirebon dengan di Indramayu itu meskipun termasuk bahasa Jawa, mempunyai perbedaan cukup besar dengan “bahasa Jawa baku”, yaitu bahasa yang diajarkan di sekolah-sekolah yang berpegang kepada bahasa Jawa Solo. Dengan demikian, sebelum 1970-an, buku-buku pelajaran dari Solo tak dapat digunakan karena terlalu sukar bagi para murid (dan mungkin juga gurunya). Oleh karena itu, pada 1970-an, buku pelajaran itu diganti dengan buku pelajaran bahasa Sunda yang dianggap akan lebih mudah dimengerti karena para pemakai bahasa Sunda “lebih dekat”. Akan tetapi, ternyata kebijaksanaan itu pun tidak tepat sehingga muncul gerakan untuk menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan di wilayahnya, yaitu Bahasa Jawa dialek Cirebon. [7] namun penerbitan buku penujang pelajaran bahasa daerah yang terjadi tahun selanjutnya tidak mencantumkan kata "Bahasa Jawa dialek Cirebon" lagi, akan tetapi hanya menggunakan kata "Bahasa Cirebon" hal ini seperti yang telah dilakukan pada penerbitan buku penunjang pelajaran bahasa cirebon pada tahun 2001 dan 2002. "Kamus Bahasa Cirebon" yang ditulis oleh almarhum bapak Sudjana sudah tidak mencantumkan Kata "Bahasa Jawa dialek Cirebon" namun hanya "Kamus Bahasa Cirebon" begitu juga penerbitan "Wyakarana - Tata Bahasa Cirebon" pada tahun 2002 yang tidak mununjukan lagi keberadaan Bahasa Cirebon sebagai bagian dari Bahasa Jawa, namun menunjukan eksistensi Bahasa Cirebon sebagai bahasa yang mandiri.

Perbandingan Bahasa Cirebon Bagongan (Bahasa Rakyat)

Berikut merupakan perbandingan antara bahasa Cirebon dengan bahasa lainnya yang dianggap serumpun, yaitu bahasa Jawa Serang (Jawa Banten), Bahasa Jawa dialek Tegal dan Pemalangan serta Bahasa Jawa Baku (dialek Surakarta - Yogyakarta) dalam level Bagongan atau Bahasa Rakyat.
Banten Utara Cirebonan & Dermayon[8] Banyumasan Tegal, Brebes Pemalang Solo/Jogja Surabaya Indonesia
kita kita/reang/isun inyong/nyong inyong/nyong nyong aku aku aku/saya sire sira rika koen koe kowe koen kamu pisan pisan banget nemen/temen nemen/temen/teo tenan men sangat keprimen kepriben/kepriwe kepriwe kepriben/priben/pribe keprimen/kepriben/primen/prime/priben/pribe piye/kepriye yaopo bagaimana ore ora/beli ora ora/belih ora ora gak tidak rabi rabi kawin kawin kawin kawin kawin kawin/nikah manjing manjing mlebu manjing/mlebu manjing/mlebu mlebu mlebu masuk arep arep/pan arep pan pan/pen/ape/pak arep katene akan sake sing sekang sing kadi/kading seko teko dari

Dialek Bahasa Cirebon

Menurut Bapak Nurdin M. Noer Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon, Bahasa Cirebon memiliki setidaknya ada beberapa dialek, yakni Bahasa Cirebon dialek Dermayon atau yang dikenal sebagai Bahasa Indramayuan, Bahasa Cirebon dialek Jawareh (Jawa Sawareh) atau Bahasa Jawa Separuh, Bahasa Cirebon dialek Plered dan dialek Gegesik (Cirebon Barat wilayah Utara)

Bahasa Cirebon dialek Jawareh (Jawa Sawareh)

Dialek Jawareh atau disebut juga sebagai Jawa Sawareh (separuh) merupakan dialek dari Bahasa Cirebon yang berada disekitar perbatasan Kabupaten Cirebon dengan Brebes, atau sekitar Perbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kuningan. Dialek Jawareh ini merupakan gabungan dari separuh Bahasa Jawa dan separuh bahasa Sunda. [9]

Bahasa Cirebon dialek Dermayon

Dialek Dermayon merupakan dialek Bahasa Cirebon yang digunakan secara luas di wilayah Kabupaten Indramayu, menurut Metode Guiter, dialek Dermayon ini memiliki perbedaan sekitar 30% dengan Bahasa Cirebon sendiri. Ciri utama dari penutur dialek Dermayon adalah dengan menggunakan kata "Reang" sebagai sebutan untuk kata "Saya" dan bukannya menggunakan kata "Isun" seperti halnya yang digunakan oleh penutur Bahasa Cirebon.

Bahasa Cirebon dialek Plered (Cirebon Barat)

Dialek Plered merupakan dialek Bahasa Cirebon yang digunakan di wilayah sebelah barat Kabupaten Cirebon, dialek ini dikenal dengan cirinya yaitu penggunaan huruf "o" yang kental, misalkan pada Bahasa Cirebon standar menggunakan kata "Sira", dialek Kabupaten Cirebon bagian Barat ini menggunakan kata "Siro" untuk mengartikan "Kamu", kata "Apa" menjadi "Apo" dan Jendela menjadi "Jendelo". "jadi misalkan ingin mengatakan bahwa anak saya masuk teka menjadi anak kita manjing ning teko". selain itu cirebon dialek plered mempunyai aksen tersendiri seperti menggunakan kata tambahan jeh atau tah pada setiap percakapan. Penutur dialek yang menempati kawasan barat Kabupaten Cirebon ini lebih mengekspresikan dirinya dengan sebutan "Wong Cirebon", berbeda dengan Penduduk Kota Cirebon yang menggunakan Bahasa Cirebon standar (Sira) yang menyebut diri mereka sebagai "Tiyang Grage", walaupun antara "Wong Cirebon" dan "Tiyang Grage" memiliki arti yang sama, yaitu "Orang Cirebon" [10]

Bahasa Cirebon dialek Gegesik (Cirebon Barat wilayah Utara)

Dialek Gegesik merupakan dialek yang digunakan di wilayah Cirebon Barat wilayah Utara disekitar Kecamatan Gegesik, Bahasa Cirebon dialek Gegesik sering digunakan dalam bahasa pengantar Pewayangan oleh Dalang dari Cirebon dan kemungkinan dialek ini lebih halus ketimbang dialeknya "wong cirebon" sendiri. [11]

Perbandingan Dialek Bahasa Cirebon

Bahasa Cirebon Baku Dialek Indramayu Dialek Plered Dialek Ciwaringin Indonesia
Ana (Bagongan) Ana Ano Ana Ada
Apa (Bagongan) Apa Apo Apa Apa
Bapak (Bagongan) Bapak Mama'/Bapa Bapa / Mama Bapak
Beli (Bagongan) Ora Beli Bli / Ora Tidak
Dulung (Bagongan) Dulang Dulang Muluk Suap (Makan)
Elok (Bagongan) Sokat Lok Sok Pernah
Isun (Bagongan) Reang Isun Isun / Kita Saya
Kula (Bebasan) Kula Kulo Kula Saya
Lagi apa? (Bagongan) Lagi apa? lagi apo? Lagi Apa Sedang apa?
Laka (Bagongan) Laka Lako/Langko Laka Tidak ada
Paman (Bagongan) Paman Paman Mang Paman
Salah (Bagongan) Salah Salo Salah Salah
Sewang (Bagongan) Sewong Sawong - Seorang (Masing-masing)
gak ada gambarnya payah ah kuno jadullll ke tinggallan jaman 3845749yiuryify4iugfhi7ctb487cbyuiyuiyuifghiuahfiuhuiwhuhfuihdiuhguihsdkjhgjksdhjkfhkjewhfiuhkhsdkhfiuyheuhkshhhhhhhsdufhuhouho4y65894y8ty945yt97984utiurihudhuhfhdkgkhkgdhkuhkghrdkgkhkdukrgh.

Kebudayaan

Hubungan dengan Kebudayaan Sunda

Hubungan dengan Suku atau Kebudayaan Sunda ditandai dengan adanya Keraton Cirebon sebagai sebuah bentuk eksistensi adanya Suku Cirebon, dimana pendiri Keraton Cirebon yaitu Raden Walangsungsang dan Nyai rara santang serta Pangeran Surya yang merupakan Kuwu di Kaliwedi masih keturunan Kerajaan Pajajaran yang merupakan Kerajaan Sunda namun dalam perkembangan selanjutnya Keraton Cirebon yang merupakan lambang eksistensi keberadaan Suku Cirebon memilih jalannya sendiri yang kebanyakan bercorak islam.

Hubungan dengan Kebudayaan Jawa

Dalam kaitannya dengan Kebudayaan Jawa, keberadaan Bahasa Cirebon selalu dikaitkan dengan Bahasa Jawa dikarenakan adanya Tata Bahasa Cirebon yang mirip dengan Tata Bahasa Jawa, serta adanya beberapa kata dalam bahasa cirebon yang juga memiliki arti sama dalam Bahasa Jawa.
Isun arep lunga sing umah
Kalimat dalam bahasa cirebon di atas berarti "saya mau pergi dari rumah" dimana jika dialihkan dalam bahasa jawa kata ini menjadi "aku arep lungo sing umah" sehingga didapatkan kata yang hampir serupa akan tetapi ragam kalimat dalam bahasa cirebon tidak hanya terbatas dari serapan Bahasa Jawa, perhatikan ragam dialek dari bahasa cirebon berikut :
ari khaul mulae bakda magrib mah punten, isun beli bisa teka, ana janji sih karo adhine
[12],[13] dalam kalimat di atas ditemukan kata "ari" yang merupakan serapan dari bahasa sunda dan kata "bakda" yang merupakan serapan dari bahasa arab. dimana jika dialihkan ke dalam bahasa sunda baku ataupun jawa baku akan ditemukan ragam kosakata yang berbeda dengan kalimat di atas.

Referensi

  1. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003.
  2. ^ Harthana, Timbuktu dan Ignatius Sawabi 2010. "Suku Bangsa Ini Bernama Cirebon". Kompas
  3. ^ Sudjana, TD. 2005. "Kamus Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
  4. ^ a b Menimbang-nimbang Bahasa Cirebon(Edisi Tahun 2009)
  5. ^ Amaliya. 2010. Alasan Politiklah Sebabnya. Bandung : Pikiran Rakyat
  6. ^ Amaliya. 2010. Alasan Politiklah Sebabnya. Bandung : Pikiran Rakyat
  7. ^ Rosidi, Ajip. 2010. "Bahasa Cirebon dan Bahasa Indramayu". : Pikiran Rakyat
  8. ^ Salana. 2002. "Wyakarana : Tata Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
  9. ^ Nieza. "Jalan-Jalan Ke Cirebon Sega Jamblang Sampai Batik Trusmian" : PT Gramedia Pustaka Utama
  10. ^ Nieza. "Jalan-Jalan Ke Cirebon Sega Jamblang Sampai Batik Trusmian" : PT Gramedia Pustaka Utama
  11. ^ Noer, Nurdin M. "Wayang Kulit Di Mata Matthew Isaac Cohen" : Pikiran Rakyat
  12. ^ Sudjana, TD. 2005. "Kamus Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
  13. ^ Salana. 2002. "Wyakarana : Tata Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
READ MORE - Wong CherBond Read more...

Basa CherBond

Bahasa Cirebon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Bahasa Jawa Cirebon)
Langsung ke: navigasi, cari
Bahasa Cirebon atau disebut oleh masyarakat setempat sebagai Basa Cerbon ialah bahasa yang dituturkan di pesisir utara Jawa Barat terutama mulai daerah Pedes hingga Cilamaya di Kabupaten Karawang, Blanakan, Pamanukan, Pusakanagara, Pusaka Ratu, Compreng di Kabupaten Subang, Jatibarang di Kabupaten Indramayu, Ligung, Jatitujuh, Sumberjaya, Dawuan, Kasokandel, Kertajati, Palasah, Jatiwangi[1], Sukahaji dan Sindang[2] di Kabupaten Majalengka sampai Cirebon dan Losari Timur di Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah.

Daftar isi

Pengaruh

Dahulu dialek ini digunakan dalam perdagangan di pesisir Jawa Barat mulai Cirebon yang merupakan salah satu pelabuhan utama, khususnya pada abad ke-15 sampai ke-17. Bahasa Cirebon dipengaruhi pula oleh budaya Sunda karena keberadaannya yang berbatasan langsung dengan kebudayaan Sunda, khususnya Sunda Kuningan dan Sunda Majalengka dan juga dipengaruhi oleh Budaya China, Arab dan Eropa hal ini dibuktikan dengan adanya kata "Taocang (Kuncir)" yang merupakan serapan China, kata "Bakda (Setelah)" yang merupakan serapan Bahasa Arab dan kemudian kata "Sonder (Tanpa)"[3] yang merupakan serapan bahasa eropa (Belanda). Bahasa Cirebon mempertahankan bentuk-bentuk kuno bahasa Jawa seperti kalimat-kalimat dan pengucapan, misalnya ingsun (saya) dan sira (kamu) yang sudah tak digunakan lagi oleh bahasa Jawa Baku.
Beberapa ahli percaya bahwa Sastra Cirebonan dalam bentuk tulisan telah ada sebelum permulaan zaman hindu dan telah mempengaruhi kebudayaan masyarakat Jawa. sebagai hasilnya dapat ditemui dua macam hasil karya sastra cirebonan, yang disebut "tembang gedhe dan tembang tengahan" setelah Cirebon dijadikan pusat dari penyebar agama islam oleh walisanga, yang diperkirakan sekitar abad ke 14 - 15masehi, "tembang cilik" yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai "tembang macapat" muncul. setelah beberapa hasil karya sastra telah selesai ditulis, banyak cerita sejarah atau legenda menyebar ke masyarakat melalui komunikasi (tatap muka).[4]

Perdebatan Bahasa Cirebon (Dialek Bahasa Jawa atau Bahasa Mandiri)

Perdebatan tentang Bahasa Cirebon sebagai Sebuah Bahasa yang Mandiri terlepas dari Bahasa Sunda dan Jawa telah menjadi perdebatan yang cukup Panjang, serta melibatkan faktor Politik Pemerintahan, Budaya serta Ilmu Kebahasaan.

Bahasa Cirebon Sebagai Sebuah Dialek Bahasa Jawa

Penelitian menggunakan kuesioner sebagai indikator pembanding kosakata anggota tubuh dan budaya dasar (makan, minum, dan sebagainya) berlandaskan metode Guiter menunjukkan perbedaan kosa kata bahasa Cirebon dengan bahasa Jawa di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 75 persen, sementara perbedaannya dengan dialek di Jawa Timur mencapai 76 persen.[5] Untuk diakui sebagai sebuah bahasa tersendiri, suatu bahasa setidaknya membutuhkan sekitar 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya.[5]
Meski kajian Linguistik sampai saat ini menyatakan bahasa Cirebon ”hanyalah” dialek (Karena Penelitian Guiter mengatakan harus berbeda sebanyak 80% dari Bahasa terdekatnya), namun sampai saat ini Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 masih tetap mengakui Cirebon sebagai bahasa dan bukan sebagai sebuah dialek. Dengan kata lain, belum ada revisi terhadap perda tersebut. Menurut Kepala Balai Bahasa Bandung Muh. Abdul Khak, hal itu sah-sah saja karena perda adalah kajian politik. Dalam dunia kebahasaan menurut dia, satu bahasa bisa diakui atas dasar tiga hal. Pertama, bahasa atas dasar pengakuan oleh penuturnya, kedua atas dasar politik, dan ketiga atas dasar Linguistik.
Bahasa atas dasar politik, contoh lainnya bisa dilihat dari sejarah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang sebenarnya berakar dari bahasa Melayu, seharusnya dinamakan bahasa Melayu dialek Indonesia. Namun, atas dasar kepentingan politik, akhirnya bahasa Melayu yang berkembang di negara Indonesia –oleh pemerintah Indonesia– dinamakan dan diklaim sebagai bahasa Indonesia. Selain alasan politik, pengakuan Cirebon sebagai bahasa juga bisa ditinjau dari batasan wilayah geografis dalam perda itu. Abdul Khak mengatakan, Cirebon disebut sebagai dialek jika dilihat secara nasional dengan melibatkan bahasa Jawa.
Artinya, ketika perda dibuat hanya dalam lingkup wilayah Jabar, Cirebon tidak memiliki pembanding kuat yaitu bahasa Jawa. Apalagi, dibandingkan dengan bahasa Melayu Betawi dan Sunda, Cirebon memang berbeda.[6]

Bahasa Cirebon sebagai Bahasa Mandiri

Revisi Perda, sebenarnya memungkinkan dengan berbagai argumen linguistik. Namun, kepentingan terbesar yang dipertimbangkan dari sisi politik bisa jadi adalah penutur bahasa Cirebon, yang tidak mau disebut orang Jawa maupun orang Sunda. Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon Nurdin M. Noer mengatakan, bahasa Cirebon adalah persilangan bahasa Jawa dan Sunda. Meskipun dalam percakapan orang Cirebon masih bisa memahami sebagian bahasa Jawa, dia mengatakan kosakata bahasa Cirebon terus berkembang tidak hanya ”mengandalkan” kosa kata dari bahasa Jawa maupun Sunda.
”Selain itu, bahasa Cirebon sudah punya banyak dialek. Contohnya saja dialek Plered, Jaware, dan Dermayon,” ujarnya. Jika akan dilakukan revisi atas perda tadi, kemungkinan besar masyarakat bahasa Cirebon akan memprotes.
Pakar Linguistik Chaedar Al Wasilah pun menilai, dengan melihat kondisi penutur yang demikian kuat, revisi tidak harus dilakukan. justru yang perlu dilakukan adalah melindungi bahasa Cirebon dari kepunahan..[7]
Bahasa Cirebon atau disebut oleh masyarakat setempat sebagai Basa Cerbon ialah bahasa yang dituturkan di pesisir utara Jawa Barat terutama mulai daerah Pedes hingga Cilamaya di Kabupaten Karawang, Blanakan, Pamanukan, Pusakanagara, Pusaka Ratu, Compreng di Kabupaten Subang, Jatibarang di Kabupaten Indramayu, Ligung, Jatitujuh, Sumberjaya, Dawuan, Kasokandel, Kertajati, Palasah, Jatiwangi[8], Sukahaji dan Sindang[9] di Kabupaten Majalengka sampai Cirebon dan Losari Timur di Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah.

Pengaruh

Dahulu dialek ini digunakan dalam perdagangan di pesisir Jawa Barat mulai Cirebon yang merupakan salah satu pelabuhan utama, khususnya pada abad ke-15 sampai ke-17. Bahasa Cirebon dipengaruhi pula oleh budaya Sunda karena keberadaannya yang berbatasan langsung dengan kebudayaan Sunda, khususnya Sunda Kuningan dan Sunda Majalengka dan juga dipengaruhi oleh Budaya China, Arab dan Eropa hal ini dibuktikan dengan adanya kata "Taocang (Kuncir)" yang merupakan serapan China, kata "Bakda (Setelah)" yang merupakan serapan Bahasa Arab dan kemudian kata "Sonder (Tanpa)"[10] yang merupakan serapan bahasa eropa (Belanda). Bahasa Cirebon mempertahankan bentuk-bentuk kuno bahasa Jawa seperti kalimat-kalimat dan pengucapan, misalnya ingsun (saya) dan sira (kamu) yang sudah tak digunakan lagi oleh bahasa Jawa Baku.
Beberapa ahli percaya bahwa Sastra Cirebonan dalam bentuk tulisan telah ada sebelum permulaan zaman hindu dan telah mempengaruhi kebudayaan masyarakat Jawa. sebagai hasilnya dapat ditemui dua macam hasil karya sastra cirebonan, yang disebut "tembang gedhe dan tembang tengahan" setelah Cirebon dijadikan pusat dari penyebar agama islam oleh walisanga, yang diperkirakan sekitar abad ke 14 - 15masehi, "tembang cilik" yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai "tembang macapat" muncul. setelah beberapa hasil karya sastra telah selesai ditulis, banyak cerita sejarah atau legenda menyebar ke masyarakat melalui komunikasi (tatap muka).[11]

Perdebatan Bahasa Cirebon (Dialek Bahasa Jawa atau Bahasa Mandiri)

Perdebatan tentang Bahasa Cirebon sebagai Sebuah Bahasa yang Mandiri terlepas dari Bahasa Sunda dan Jawa telah menjadi perdebatan yang cukup Panjang, serta melibatkan faktor Politik Pemerintahan, Budaya serta Ilmu Kebahasaan.

Bahasa Cirebon Sebagai Sebuah Dialek Bahasa Jawa

Penelitian menggunakan kuesioner sebagai indikator pembanding kosakata anggota tubuh dan budaya dasar (makan, minum, dan sebagainya) berlandaskan metode Guiter menunjukkan perbedaan kosa kata bahasa Cirebon dengan bahasa Jawa di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 75 persen, sementara perbedaannya dengan dialek di Jawa Timur mencapai 76 persen.[5] Untuk diakui sebagai sebuah bahasa tersendiri, suatu bahasa setidaknya membutuhkan sekitar 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya.[5]
Meski kajian Linguistik sampai saat ini menyatakan bahasa Cirebon ”hanyalah” dialek (Karena Penelitian Guiter mengatakan harus berbeda sebanyak 80% dari Bahasa terdekatnya), namun sampai saat ini Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 masih tetap mengakui Cirebon sebagai bahasa dan bukan sebagai sebuah dialek. Dengan kata lain, belum ada revisi terhadap perda tersebut. Menurut Kepala Balai Bahasa Bandung Muh. Abdul Khak, hal itu sah-sah saja karena perda adalah kajian politik. Dalam dunia kebahasaan menurut dia, satu bahasa bisa diakui atas dasar tiga hal. Pertama, bahasa atas dasar pengakuan oleh penuturnya, kedua atas dasar politik, dan ketiga atas dasar Linguistik.
Bahasa atas dasar politik, contoh lainnya bisa dilihat dari sejarah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang sebenarnya berakar dari bahasa Melayu, seharusnya dinamakan bahasa Melayu dialek Indonesia. Namun, atas dasar kepentingan politik, akhirnya bahasa Melayu yang berkembang di negara Indonesia –oleh pemerintah Indonesia– dinamakan dan diklaim sebagai bahasa Indonesia. Selain alasan politik, pengakuan Cirebon sebagai bahasa juga bisa ditinjau dari batasan wilayah geografis dalam perda itu. Abdul Khak mengatakan, Cirebon disebut sebagai dialek jika dilihat secara nasional dengan melibatkan bahasa Jawa.
Artinya, ketika perda dibuat hanya dalam lingkup wilayah Jabar, Cirebon tidak memiliki pembanding kuat yaitu bahasa Jawa. Apalagi, dibandingkan dengan bahasa Melayu Betawi dan Sunda, Cirebon memang berbeda.[12]

Bahasa Cirebon sebagai Bahasa Mandiri

Revisi Perda, sebenarnya memungkinkan dengan berbagai argumen linguistik. Namun, kepentingan terbesar yang dipertimbangkan dari sisi politik bisa jadi adalah penutur bahasa Cirebon, yang tidak mau disebut orang Jawa maupun orang Sunda. Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon Nurdin M. Noer mengatakan, bahasa Cirebon adalah persilangan bahasa Jawa dan Sunda. Meskipun dalam percakapan orang Cirebon masih bisa memahami sebagian bahasa Jawa, dia mengatakan kosakata bahasa Cirebon terus berkembang tidak hanya ”mengandalkan” kosa kata dari bahasa Jawa maupun Sunda.
”Selain itu, bahasa Cirebon sudah punya banyak dialek. Contohnya saja dialek Plered, Jaware, dan Dermayon,” ujarnya. Jika akan dilakukan revisi atas perda tadi, kemungkinan besar masyarakat bahasa Cirebon akan memprotes.
Pakar Linguistik Chaedar Al Wasilah pun menilai, dengan melihat kondisi penutur yang demikian kuat, revisi tidak harus dilakukan. justru yang perlu dilakukan adalah melindungi bahasa Cirebon dari kepunahan..[13]

Aksara Cirebon

Bahasa Cirebon dalam perjalanannya menggunakan aksara yang dikenal dengan nama Cacarakan Cirebon dan juga Aksara Arab Pegon. Aksara Cacarakan Cirebon merupakan jenis aksara yang bentuknya lebih dekat dengan aksara Bali ketimbang aksara Carakan Jawa.

Cacarakan Cirebon


Cacarakan Cirebon (Pada Masjid Nur Karomah (Sir Budi Rahsa), Desa Gamel, Kec. Plered, Kab. Cirebon. Photo : Guntur Samudro P)
Alihbahasa dari Cacarakan Cirebon ke Romawi
Mar(a) Adi Ngawas (dekati dengan pengawasan sungguh) Amung Geng Walen (hanya memper) besar walen (atap)
5261 Saka (1625 saka = 1703 Masehi = 1111 / 1113 Hijriah)
DINA AHAD JUMADIL AKIR TAHUN DAL AHIR 82 (?)
artinya
itu adalah aktifitas pembenaran eternit atau atap masjid yang diperbesar pada tahun 1703 Masehi / 1625 saka, bertepatan dengan 1111 atau 1113 Hijriah
(Diterjemahkan oleh Dodie Yulianto - Lembaga Basa lan Sastra Cirebon)-->

Kosakata

Sebagian besar kosa kata asli dari bahasa ini tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta/Yogyakarta) baik secara morfologi maupun fonetik. Memang bahasa Cirebon yang dipergunakan di Cirebon dengan di Indramayu itu meskipun termasuk bahasa Jawa, mempunyai perbedaan cukup besar dengan “bahasa Jawa baku”, yaitu bahasa yang diajarkan di sekolah-sekolah yang berpegang kepada bahasa Jawa Solo. Dengan demikian, sebelum 1970-an, buku-buku pelajaran dari Solo tak dapat digunakan karena terlalu sukar bagi para murid (dan mungkin juga gurunya). Oleh karena itu, pada 1970-an, buku pelajaran itu diganti dengan buku pelajaran bahasa Sunda yang dianggap akan lebih mudah dimengerti karena para pemakai bahasa Sunda “lebih dekat”. Akan tetapi, ternyata kebijaksanaan itu pun tidak tepat sehingga muncul gerakan untuk menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan di wilayahnya, yaitu Bahasa Jawa dialek Cirebon. [14] namun penerbitan buku penujang pelajaran bahasa daerah yang terjadi tahun selanjutnya tidak mencantumkan kata "Bahasa Jawa dialek Cirebon" lagi, akan tetapi hanya menggunakan kata "Bahasa Cirebon" hal ini seperti yang telah dilakukan pada penerbitan buku penunjang pelajaran bahasa cirebon pada tahun 2001 dan 2002. "Kamus Bahasa Cirebon" yang ditulis oleh almarhum bapak Sudjana sudah tidak mencantumkan Kata "Bahasa Jawa dialek Cirebon" namun hanya "Kamus Bahasa Cirebon" begitu juga penerbitan "Wyakarana - Tata Bahasa Cirebon" pada tahun 2002 yang tidak mununjukan lagi keberadaan Bahasa Cirebon sebagai bagian dari Bahasa Jawa, namun menunjukan eksistensi Bahasa Cirebon sebagai bahasa yang mandiri.

Perbandingan Bahasa Cirebon Bagongan (Bahasa Rakyat)

Berikut merupakan perbandingan antara bahasa Cirebon dengan bahasa lainnya yang dianggap serumpun, yaitu bahasa Jawa Serang (Jawa Banten), Bahasa Jawa dialek Tegal dan Pemalangan serta Bahasa Jawa Baku (dialek Surakarta - Yogyakarta) dalam level Bagongan atau Bahasa Rakyat.
Banten Utara Cirebonan & Dermayon[15] Banyumasan Tegal, Brebes Pemalang Solo/Jogja Sunda Priangan Indonesia
Ateng Enang Adi

Dimas Dede Adik Laki-laki
Nong



Diayu Dede Adik Perempuan
kita kita/reang/isun inyong/nyong inyong/nyong nyong aku urang aku/saya
sire sira rika koen koe kowe maneh kamu
pisan pisan banget nemen/temen nemen/temen/teo tenan pisan sangat
keprimen kepriben/kepriwe kepriwe kepriben/priben/pribe keprimen/kepriben/primen/prime/priben/pribe piye/kepriye kumaha bagaimana
ore ora/beli ora ora/belih ora ora enteu tidak
manjing manjing mlebu manjing/mlebu manjing/mlebu mlebu asup masuk
arep arep/pan arep pan pan/pen/ape/pak arep arek akan
sake sing sekang sing kadi/kading seko ti dari
kelambi Kelambi Kelambi Kelambi Kelambi Kelambi Acuk Pakaian
Kulon Kulon Kulon Kulon Kulon Kulon Kulon Barat
Tuku Tuku Tuku Tuku Tuku Tuku Meuli Beli
Durung Durung Durung Durung Durung Durung Euncan Belum
Kependak Kepetuk Kepetuk Kepetuk

Kapanggih Bertemu
Bise Bisa Bisa Bisa Bisa Bisa Bisa Bisa
Lan Lan Lan Lan Lan Lan Jeung Dan
Teke Teka Teka Teka Teka Teka Datang Datang
Kare Karo Karo Karo Karo Karo Jeung Dengan
Entek Entek / Kasepan* Entek Entek Entek Entek Beak Habis (* kasepan = kehabisan barang karena terlambat datang)

Perbandingan Bahasa Cirebon Bebasan (Bahasa Halus)

Berikut ini adalah perbandingan antara bebasan (Bahasa Halus) Cirebon, bebasan Pemalangan, dengan bebasan Serang (Jawa Banten)
Banten Utara Cirebonan & Dermayon[16] Pemalangan/Tegalan Sunda Priangan Indonesia
Kasih Jeneng Jeneng/nami/asmi Nami Nama
Boten Boten Mboten Enteu Tidak
Teteh Rara/Yayu Mbak/mbakyu Teteh Kakak perempuan (mbak)
Koh/iku/puniku Kuh/puniku Puniku/niku Eta Itu
Kepetuk Kapanggih Kepanggih Kapanggih Ketemu
Iki Kih Niki Iyeu Ini
nggih Inggih Inggih/nggih Muhun Ya
Ugi Ugi Ugi Oge Juga
Kelipun Punapa Kenging nopo Naha Kenapa
Hampura Hampura Ngampunten Hampura Maaf
Sege Sekul Sekul Sangu Nasi
Linggar Kesah Tindak/kesah Angkat Pergi
Darbe Gadah Gadah Gaduh Punya
Seniki Seniki Sakniki Dinten iyeu Sekarang
Matur nuhun Matur nuwun/kesuwun Matur nuwun Hatur nuhun Terima kasih
Ayun ning pundi Bade pundi Bade teng pundi Bade kamana Mau kemana?
Pasar Peken Peken Pasar Pasar
Salah Sawon Salah Salah Salah
Kule Kula Kulo Kuring Saya
Uning Uning Ngertos Ngartos Tahu
Bangkit Saged Saged Tiasa Bisa
Napik Sampun Sampun Ulah Jangan
Nire Sampeyan / Panjenengan Sampeyan Anjeun Anda
Cepe Capeh Capeh Saur Kata
Gelem Bade Bade Bade Mau
Sare Kilem Tilem Kulem Tidur
Mantuk Wangsul Wangsul Wangsul Pulang
Saos Mawon Mawon Wae Saja
Wau Wau Wau Tadi Tadi
Maler Maksih Tesih Masih Masih

Kamus Bahasa Indonesia - Cirebon

Berikut adalah Kamus yang berisi kosakata bahasa Cirebon Bagongan, Bahasa Cirebon Bebasan, Indramayu Ngoko dan Indramayu Krama (Masyarakat Indramayu menyebut Bahasa Bagongan dengan sebutan Bagongan atau Ngoko dan Bebasan dengan sebutan Krama atau Besiken[17]) serta terjemahannya dalam Bahasa Indonesia
Cirebon Bagongan Cirebon Bebasan dialek Indramayu Bagongan / Ngoko[18] dialek Indramayu Krama / Besiken[19] Bahasa Indonesia Penjelasan
Abad ? Abad Lestantum Abad
Abang Abrit Abang Abrit Merah
Abot ? Abot Awrat Berat
Adi
Adi
Adik (Secara Umum Laki-Laki dan Perempuan)
Nang / Enang Ayi Nang Rayi Adik (Laki-Laki)
Adoh Tebih Adoh Tebih Jauh
Adol Sadean Adol Sadean Dagang
Adu Aben Adu Aben Adu
Adus Siram Adus Siram Mandi
Adhem ? Adhem Asrep Sejuk
Agama Agami Agama Agami Agama
Aja Sampun

Jangan (Sampun teng Riku! = "Jangan Disitu!"
Akeh Katah Akeh Katah Banyak
Kakang Raka Kakang Raka Kakak Laki-Laki
Aki Ki Kaki ? Kakek
Aku Akên

Aku (Mengaku) ngaken (mengaku)
Alas / Luwung Wana Alas Wana Hutan
Alih ?

Pindah (Ingsun sampun ngalih teng Kuningan = Saya sudah pindah ke Kuningan)
Amarga Amargi

Akibat (amargi ingsun mboten uning kepripun pakemipun basa Bebasan Cirebon ingkang leres = akibatnya saya tidak tahu bagaimana peraturan bahasa Bebasan Cirebon yang benar)
Aig / Age Aglis Cepet / Gage Enggal Segera
Amba Wiwir Amba Wiyar Luas
Ambir Supadon

Biar
Amit /Permisi ? Amit Nuwun Sewu Permisi
Ana Wenten Ana Wonten Ada
Angel Susah Angel Sesaha Susah
Angon Angen Angon Angen Gembala Ngangon Kebo (Menggembala Kerbau)
Angot ? Kumat Kimat Kambuh
Antarane Antawise Antarane Antawise Antaranya
Apa Punapa Apa Punapa Apa
Apik Sae Apik Sae Baik
Aran Jeneng / Asmi Aran Nami/Asmi Nama
Arep Ajeng Arep Ajeng Akan
Arep mendhi Bade pundi Arep mendhi / Garep Mendhi Bade pundi Mau ke mana?
Asli ? Asli Sesupe Asli
Asu ? Asu Segawon Anjing
Ati Manah Ati Manah Hati
Aturan Pakem

Aturan
Awan Siyang Awan Rina / Siang Siang
Awak Selira / Badan Awak Salira / Badan Badan
Ayam Sawung Ayam Sawung Ayam
Bae Mawon Bae Mawon Saja
Bagen Sanggine Bagen Kêrsanipun Biarkan
Bagus Sae Bagus Sae Bagus
Baka Menawi Baka Menawa Kalau
Balik Wangsul Balik Wangsul Pulang
Banyu Toya Banyu Toya Air
Bapak Rama Bapak Rama Bapak
Batur Rencang Batur Rencang Kawan
Banyu Toya Banyu Toya Air
Bari Kaliyan Bareng Sesarengan Bersama
Bawi ? Celeng Andhapan Babi
Bebek ? Bebek Kambangan Bebek
Belah Palih Belah Palih Sepalih (sebelah)
Beli / Ora Boten

Tidak
Bênêr Lêrês Bênêr Lêrês Benar
Bendrongan ?

Main Musik (Main Musik Dengan Alat Seadanya disebut "Bendrongan"
Bêngên Rumiyen Bêngên Rumiyin / Sengen Dahulu
Bêngi Dalu Bêngi Dalu Malam
Beras Uwos Beras Uwos Beras
Bobad ? Bobad
Bohong
Bocah / Anak Lare Anak Lare Anak
Bokat ?

Takut / Barangkali "aja ning ngerep nok..!!, bokat ketendang!" (jangan di depan nak!! (perempuan), Takut tertendang!) "isun arep ngulur batur-batur nang alun-alun, bokat bae ana mengkana" (saya hendak mencari anak-anak di alun-alun, barangkali saja ada di sana)
Bonggan ?

Awas! Digunakan ketika kesal pada sesuatu atau Menantang
Brêsi Rêsik Bersih Rêsik Bersih
Bubar Bibar Bubar Bibar Bubar
Bulit ?

Curang
Buri Wingking Buri / Guri Wingking Belakang Nang Buri, Teng Wingking (Di Belakang)
Buru-Buru Kêsusu Buru-Buru Bujêng-bujêng Tergesa-gesa
Buwang Bucal Buwang Bucal Buang / Melemparkan
Cangkêm Lêsan Cangkêm / Tutuk Lêsan Mulut
Caos Seba ? ? Menghadap / Menemui
Carita ? Crita Crios Cerita
Cêg ? Cêkêl Ngasta Pegang Cêgcêgan (Pegangan)
Cilik Alit Cilik Alit Kecil
Coba Cobi Coba Cobi Coba
Cungur / Irung  ? Irung Grana Hidung
Cukur Paras Cukur Paras Cukur
Dadi Dados Dadi Dados Jadi
Dagang Sadean Dagang Sadean Dagang
Dake Gadah

Punya (Dapat)
Dalan Dêrmagi Dalan Marga Jalan
Dandan ? Dandan Dandos Berhias
Dawuk ?

Dewasa
Dêlêng Ningali Dêlêng Ningali / Mirsani Melihat
Dhadha Jaja Dhadha Jaja Dada
Damar Pandhêm Damar Pandam Lampu
Dêmên Tresna Dêmên Tresna Cinta
Dêmplon ?

Seksi
Dêngkul / Tur ? Dêngkul Jengku Lutut
Dewek Piyambêk

Sendiri
Di Di Di Dipun Di (Imbuhan) Cirebon Bebasan : "Dibarokahi", dialek Indramayu Krama : "Dipun Barokahi"
Dina Dintên Dina Dintên Hari (Sedinten-dinten = Sehari-hari)
Dolan ? Dolan ? Main
Dom Jarum Dom Jarum Jarum
Doyan Purun / Kersa Doyan Purun / Kersa Suka / Mau
Duit Yatra Duit Yatra Uang
Dulung Ndahari Dulang Ndahari Suap (Makan)
Durung Dêrêng Durung Dêrêng Belum
Duwe Gadah Duwe Gadah Punya
Duwur Inggil Duwur Inggil Tinggi
êling êmut êling êmut Ingat
êmbah êyang êmbah êyang Kakek-Nenek
Embuh Wikan Embuh Kirangan / Wikan Tidak Tahu
? ? Embun-embunan Pasundulan Embun-embun
Emong Boten Emong Mboten Tidak Mau
Enak Eca Enak Eca Enak
êndas Sirah

Kepala
êndhêp êndhap êndhêp / Cindek êndhap Pendek
êndi Pundi êndi Pundi Mana
êndog Tigan êndog Tigan Telur
êngko Ajeng

Nanti
ênom ênêm ênom ênêm / timur Muda
êntêk Têlas êntok Têlas Habis
Enteni ? Enteni Entosi Menunggu
Erti Ertos

Arti (Ngertos = Mengerti) (Basa Iku alat Komunikasi, Umpami panjenengan ngertos ya leres! = Bahasa itu alat komunikasi kalau anda mengerti ya bagus!)
Esuk Enjing Esuk Enjing Pagi
Etung Etang Etung Etang Hitung
Gajah Liman Gajah Liman Gajah
Gampang Gampil Gampang Gampil Mudah
Ganti Gantos Ganti Gantos Ganti
Gawa Bakta Gawa Bakta Bawa mbakta (Membawa), Gawaan / bektan (Barang Bawaan)
Gawe Damel Gawe Damel Kerja
Gedang Pisang

Pisang
Gede Ageng

Besar
Gêlêm Purun Gêlêm Purun Mau
Gelang Binggel Gelang Binggel Gelang
Gelung Ukel Gelung Ukel Gulung
Gemuyu Gemujeng Gemuyu Gemujeng Tertawa
Gen Ugi

Juga
Genap Jangkep Genap Jangkep Lengkap
Geni Brama Geni Brama Api
Gering / Kuru /Pêyang ? Gering Kera Kurus
Getek ?

Geli
Getih Rah Getih Rah Darah
Gigir Pêngkêran Gigir Pêngkêran Punggung
Godhong Ron Godhong Ron Daun
Golek ? Golek Pados Wayang Kayu (Golek)
Gugah Wungu Gugah Wungu Bangun
Gula Gêndis Gula Gêndis Gula
Gulu Jangga Gulu Jangga Leher
Gawean Damelan ? Guneman Pekerjaan
Guyon Gujêng Guyon Gujêng Bercanda Gegujengan (Bercandaan)
Idêp Ibing Idep Ibing Bulu Mata
Idu Kecoh Idu Kecoh Ludah
Iga ? Iga Unusan Iga
Ijo Ijêm Ijo Ijêm Hijau
Ilang Ical Ilang Ical Hilang
Ilat Lidah Ilat Lidah Lidah
Imbuh ? Imbuh Tanduk Tambahan
Inep ? Inep Sipeng Bermalam
Ingu Ingah Ingu Ingah Pelihara
Irêng Cêmêng Irêng Cêmêng Hitam
Isor Andhap Isor Andhap Bawah
Isin Lingsem Isin Lingsem Malu
Isun Ingsun / Kula Reang / Kita Kula Saya
Iwak Ulam Iwak Ulam Ikan
Iya Inggih Iya Inggih Ya
Jaga Raksa Jaga Reksa Jaga Njaga, Ngraksa (Menjaga)
Jago Sawung Jago Sawung Ayam Jago
Jagong Linggih Dodok Linggih Duduk
Jala Jambêt Jala Jambêt Jala
Jalir ? ? ? Pelacur
Jaluk Pundhut Jupuk / Jokot Pendhet Ambil
Jamu Jampi Jamu Jampi Jamu
Jaran ? Jaran Titihan Kuda
Jare Cape Jare Criyos Kata (Ucap) Cirebonan : "Cape sinten?" (Kata (ucap) siapa?)
Jenggot ? Jenggot Gumbala Jenggot
Jêriji ? Driji Racikan Jari
Jero Lebet Jero Lebet Dalam
Jingkat ? Kaget Kejot Terkejut
Joget ? Joged Beksa Goyang
Kabar / Warta Wartos Kabar / Warta Wartos Berita
Kabeh Sedantên Kabeh Sêdaya Semua
Kabênêran Kalêrêsan Kabêran Kêlêrêsan Kebetulan
Kaca
Kaca Paningalan Kaca
Kae Punika Kaen Punika Itu (Dekat dengan si Pembicara)
Kali / Lêpên Benawi Kali / Lêpên Benawi Sungai
Kalung ? Kalung Sangsangan Kalung
Kandha ? Kandha Sanjang Bercerita
Kanggo Kangge Kanggo Kangge Untuk
Karang Kawis Karang Kawis Karang
Karena Kêrantên

Karena
Kari Kantun Kari Kantun Sisa (Tinggal Terakhir) / Tertinggal / Terakhir Kantun-kantun (akhirnya)
Karo Kaliyan Karo Kaliyan Bersama Teng bioskop kalian sinten inggih? (Di bioskop bersama siapa, ya?)
Karo Sareng Karo
Dengan (Garam sareng Gendhis dicampur mawon Kang! = "Garam dengan Gula dicampur aja Kang!")
Katon Kêtingal Katon Kêtingal Dapat dilihat
Katok / Cangcut Lancing Katok Lancing Celana dalam
Kaweruh
Kaweruh Seserepan Pengetahuan
Kaya / ala-ala Kados Kaya Kados Seperti (Kados Mekoten = Sepeti Begitu / Seperti Itu)
Kayu Kajeng Kayu Kajeng Kayu
Kebanjur ? Kebanjur Kelajeng Tersiram
Kêbo ? Kêbo Maesa Kerbau
Kêdêr Ewed Kêdêr Ewed Bingung
Kelanjutan Kelanjêngan

Kelanjutan
Kelapa Kerambil Kelapa Kerambil Kelapa


Keliru Klentu Keliru
Kembang Sekar Kembang Sekar Bunga
Kêmit ?

Jaga (Tugas Jaga) Kêmit Desa (Orang yang menjaga Desa)
Kêmul Singep Kêmul Singep Selimut
Kên / Kahin / Jarit Sinjang Jarit Sinjang Kain
Kene Riki Kene Riki Sini
Kêponakan Kêpênakan Kêponakan Kêpênakan Keponakan
Kêpriben Kêpripun Kêpriben Kêpripun Bagaimana
Kêramas Jamas Kramas Jamas Keramas
Kêrasan / Bêtah ? Krasan Kraos Betah
Kêringet Riwe Kêringet Riwe Keringat
Kêris ? Keris Duwung Keris
Kêrtas Dalancang Kertas Dlancang Kertas Cirebonan : "Daluwang" (Kertas yang terbuat dari Kulit Kayu)
Kêtara
Ketara Ketawis Jelas
Kêtemu Kêpanggih Kêtemu Kêpanggih Bertemu
Kêtuwon ?

Percuma / tidak dilayani dengan baik
Kêyok ? Kalah Kawon Kalah Kekalahan (Cirebon : Kasoran)
Kie Puniki / Kih Enya / Kien Puniki / Niki Ini
Kijing Sekaran Kijing Sekaran Gilang Makam
Kira Kinten Kira Kinten Kira (Perkiraan) Kinten-Kinten (Kira-Kira)
Kirim Kintun Kirim Kintun Kirim
Klambi Rasukan Klambi Rasukan Pakaian
Kongkon Kengken Kongkon Kengken Suruh
Kuburan Pasarean Kuburan Pasarean Kuburan
Kudu / Mesthi Kedah Kudu Kedah Harus
Kuku ? Kuku Kenaka Kuku
Kulon Kulen / Kulwan Kulon Kulen Barat
Kumat
Kumat Kimat Kumat


Kumpul Kêmpal Kumpul
Kuna Kina Kuna
Kuno
Kuning Jener Kuning Jenar Kuning
Kuping Talinga Kuping Talingan Telinga
Kurang Kirang Kurang Kirang Kurang
Kuwasa
Kuwasa Kuwaos Kuasa


Kuwatir Kuwaos Khawatir
Kuwayang ?

Terbayang
Kuwe Kuh / Puniku Kuwen Kuh / Puniku Itu (Jauh dari si pembicara)
Lahiran ? Bayen ? Melahirkan
Lain Dudu / Sanes Dudu Sanes Bukan
Laka Botên wêntên Langka Botên wêntên Tidak Ada
Laki Jali

Suami
Lama Dangu Lawas Lami / Dangu Lama
Lamun Bilih

Seandainya
Lamun Umpami

Umpama
Lanang Jali / Jaler Lanang Jaler Laki-laki
Larang Hawis Larang Awis Mahal
Lenga Lisa

Minyak
Lenga Latung Lisa latung

Minyak tanah
Lêwih Langkung

Lebih
Lima Gangsal Lima Gangsal Lima
Lunga Kesah

Pergi
Lupa Lêpat Klalen Kesupen Lupa
Luru Ngilari

Cari
Luru Nggulati

Cari
Mabok Mêndhêm êndhêm Mêndhêm Mabuk
Maca Maos

Baca
Manfaat / Faedah Guna Manfaat / Faedah Gina Manfaat
Mangan Dahar

Makan
Mangkat Tindak

Berangkat
Maning Malih

Lagi
Manjing Mlebet

Masuk
Mata Soca

Mata
Mati Pejah

Mati
Mayid Laywan Jisim Layon Jenazah
Melu Milet

Ikut
Mencleng ?

Lompat
Mêngana Mrika

Kesana
Mênê Mriki

Kesini
Mêngkonon Mêngkotên

Begitu
Mêtu Medal

Keluar
Mlaku Mlampah

Berjalan
Mlayu Mlajeng

Lari
Mungkin ?

Mungkin
Nang / Ning Teng

Di (Tempat)
Nang Arep Teng Ajeng

Di Depan
Nang Isor Teng Andap

Di Bawah
Nang kana Teng Riku

Di situ
Nang Mendhi Teng Pundi

Dimana
Nini ? Nini ? Nenek
Ngaji Ngaos

Mengaji
Nginum Ngombe

Minum
Nguyu Nyeni

Kencing
Olih Angsal

Mendapat
Omong Gunêm Catur Ngendika Bicara
Pada Sami

Sama
Pada bae Sami mawon

Sama saja
Pancal ?

Tendang
Papat Sêkawan

Empat
Parêk Cakêt

Dekat
Pasar Pêkên

Pasar
Pate Padem

Padam
Pati Patos Pati Patos Terlalu Beli Pati Doyan (Tidak Terlalu Suka)
Payung Pajeng Payung Pajeng Payung
Pêrabot Pêranti Abah Pirantos Perabotan
Pêrcaya Pêrcantên

Percaya
Lawang Kontên Lawang Kontên Pintu Lawang arep (Pintu Depan), Lawang Gada (Pintu Gerbang)keramas
Pira Pintên

Berapa
Piring ? Ajang Ambeng Piring
Polah ?

oleh / laku akeh polah (banyak perlakuan, banyak tingkah)
Punten Hampura

Maaf
Purun ?

Mau Panjenengan purun?(kamu mau?)
Putih Pethak

Putih
Rabi / Kurên Istri Bojo Sema Istri Sekurên = Sejodoh
Rada Rabi

Agak Rada Manis (agak manis)
Rewel ?

Cerewet
Ro / Rua Kalih

Dua
Rungu Pireng Rungu Midhanget Dengar Ngrungu, Mireng (Mendengar)
Sabên Unggal

Setiap
Salah Sawon

Salah
Sambut Sambêt

Pinjam
Sapa Sintên

Siapa (Kaliyan Sinten? "Sama Siapa?")
Sawah Sabin

Sawah
Sedang Siweg

Sedang (Melakukan) (Siweg Punapa? "Sedang Apa")
Sega Sêkul

Nasi
Sejen Liya

Lain (Mangga diterasken Liya-liya ae = "Silahkan diteruskan lain-lainnya")
Sekien Sêniki

Sekarang
Sekiki Benjing Sukiki Benjing Besok
Senajan / Ari Menawi Ari Menawa Walau
Seneng Bungah Berag Bingah Senang
Setitik Sakedik

Sedikit
Siji Sêtunggal

Satu
Sira Panjenengan

Anda
Sira Panjênêngan Kowe / Sira Sampeyan / Panjenengan Kamu
Srog Mangga Enya Mangga Silahkan Ambil Cirebonan : "Ya Asrog (Silahkan Ambil)"
Suwe
Suwe Lami Lama
Ya Mangga Ayo / Elos Mangga Silahkan Cirebon : "Ya Asrog (Silahkan Ambil)"
Taken Dangu Takon Taken Tanya Andangu (Bertanya)
Tamu Sema

Tamu
Tanduk Singat Tanduk Singat Tanduk
Teka Dugi Teka Dugi Tiba
Telu Tiba ? ? Tiga
Terus Teras

Teruskan
Tua Sepuh

Tua
Tuku Tumbas

Beli
Tur Tunten Bacut Lajeng Selanjutnya
Turu Kilem / Tilem / Kulem

Tidur
Umah Griya

Rumah
Untap ?

Durhaka
Upai Sukani Upai Sukani Beri Ngupai, Nyukani (Memberi)
Urip Gesang

Hidup
Uwis Sampun

Sudah
Wadon Istri

Perempuan
Waktu Sela Waktu Waktos Waktu
Wanci Wayah

Saat
Wareg Tuwuk

Kenyang
Wong Tiyang

Orang
Wulan Sasi

Bulan
? Kajaba

Kecuali
? Lan

Dan
? Jentik

Kelingking
? Leb

Tutup "Dileb = Ditutup" (Penggunaan Pada "Pintu")
? Maksad

Maksud (Maksadipun = Maksudnya)
? Wiraos

Bicara
Belajar Sinau / Ginau Belajar Sinau Belajar
? Kah

Itu (dekat dari si pembicara)
? Waras

Sehat
? Bethek Adang Bethak Menanak Nasi
? Serat Jungkat Serat Serabut / Serat
? ? Kengulu Kajang Bantal

Dialek Bahasa Cirebon

Menurut Bapak Nurdin M. Noer Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon, Bahasa Cirebon memiliki setidaknya ada beberapa dialek, yakni Bahasa Cirebon dialek Dermayon atau yang dikenal sebagai Bahasa Indramayuan, Bahasa Cirebon dialek Jawareh (Jawa Sawareh) atau Bahasa Jawa Separuh, Bahasa Cirebon dialek Plered dan dialek Gegesik (Cirebon Barat wilayah Utara)

Bahasa Cirebon dialek Jawareh (Jawa Sawareh)

Dialek Jawareh atau disebut juga sebagai Jawa Sawareh (separuh) merupakan dialek dari Bahasa Cirebon yang berada disekitar perbatasan Kabupaten Cirebon dengan Brebes, atau sekitar Perbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kuningan. Dialek Jawareh ini merupakan gabungan dari separuh Bahasa Jawa dan separuh bahasa Sunda. [20]

Bahasa Cirebon dialek Dermayon

Dialek Dermayon merupakan dialek Bahasa Cirebon yang digunakan secara luas di wilayah Kabupaten Indramayu, menurut Metode Guiter, dialek Dermayon ini memiliki perbedaan sekitar 30% dengan Bahasa Cirebon sendiri. Ciri utama dari penutur dialek Dermayon adalah dengan menggunakan kata "Reang" sebagai sebutan untuk kata "Saya" dan bukannya menggunakan kata "Isun" seperti halnya yang digunakan oleh penutur Bahasa Cirebon.

Bahasa Cirebon dialek Plered (Cirebon Barat)

Dialek Plered merupakan dialek Bahasa Cirebon yang digunakan di wilayah sebelah barat Kabupaten Cirebon, dialek ini dikenal dengan cirinya yaitu penggunaan huruf "o" yang kental, misalkan pada Bahasa Cirebon standar menggunakan kata "Sira", dialek Kabupaten Cirebon bagian Barat ini menggunakan kata "Siro" untuk mengartikan "Kamu", kata "Apa" menjadi "Apo" dan Jendela menjadi "Jendelo". Penutur dialek yang menempati kawasan barat Kabupaten Cirebon ini lebih mengekspresikan dirinya dengan sebutan "Wong Cirebon", berbeda dengan Penduduk Kota Cirebon yang menggunakan Bahasa Cirebon standar (Sira) yang menyebut diri mereka sebagai "Tiang Grage", walaupun antara "Wong Cirebon" dan "Tiang Grage" memiliki arti yang sama, yaitu "Orang Cirebon" [21]

Parikan Cirebon dialek Plered (Pantun Cirebon)

Berbalas pantun atau Parikan dalam Bahasa Cirebon dialek Plered antara Widudung Hamdan, Sipo dan Wahyu Pawaka
Widudung Hamdan :
Uwoh srikayo di paih tawas...
Sambel trasi enak di pangan..
Kayo kayo atine kulo keloas.
Inget rabi langko ning iringan..

maso iyo, digawo-gawo menggawe

Sipo :
Angon wedus ning jagat dermayu
Pengen adus mung sayang langko banyu
Widudung Hamdan:
ano sego dimot ning kardus..
Tuku srabi oline combo..
Ang sipo bli usoh adus..
Daripado rabi bli ngengumbo..
Wahyu Pawaka :
Isuk-isuk tuku srabi...
Tukue bari ngajar layangan...
Usuk-isuk ngobrol rabi...
Gawe kesirian wong bujangan...
Widudung Hamdan:
Miyang meng grage tuku penganan..
Olih berkat iwak cemplunge ano sing ngicipi..
Mulane gen gage kawinan..
Engko mangkat menggawe ano sing ngambunge pipi...

adaaaaauuw...
Wahyu Pawaka :
Uler gendon ngereketi pelem...
Olih berkat olih apem...
Nonton wayang langka tarube...
Bocah wadon durung ana kang gelem...
Bokat ana kang gelem...
Hayuh miyang ning pak lebe...

hehee...
Widudung Hamdan:
Gawe adon-adon kanggo gawe apem..
Tukuh sarung plekat larang regane..
Duduh saking wadon bli gelem..
Saking durung niat bae lanange..

glegek ndipit...
akaka...

Bahasa Cirebon dialek Gegesik (Cirebon Barat wilayah Utara)

Dialek Gegesik merupakan dialek yang digunakan di wilayah Cirebon Barat wilayah Utara disekitar Kecamatan Gegesik, Bahasa Cirebon dialek Gegesik sering digunakan dalam bahasa pengantar Pewayangan oleh Dalang dari Cirebon dan kemungkinan dialek ini lebih halus ketimbang dialeknya "wong cirebon" sendiri. [22]

Perbandingan Dialek Bahasa Cirebon

Bahasa Cirebon Baku Dialek Indramayu Dialek Plered Dialek Ciwaringin Dialek Pekaleran* Indonesia
Ana (Bagongan) Ana Ano Ana Ana Ada
Apa (Bagongan) Apa Apo Apa Apa Apa
Bapak (Bagongan) Bapak ? Bapa / Mama Bapak Bapak
Beli (Bagongan) Ora Oro Beli / Ora Bli/ora Tidak
Dulung (Bagongan) Dulang Dulung Muluk Suap Suap (Makan)
Elok (Bagongan) Sokat Lok Sok Ilok Pernah
Isun (Bagongan) Reang Isun Isun / Kita Nyong / Kita Saya
Kula (Bebasan) Kula Kulo Kula Kula Saya
Lagi apa? (Bagongan) Lagi apa? Deng apo? Lagi Apa Lagi Apa Sedang apa?
Laka (Bagongan) Laka Lako Laka Laka / langka Tidak ada
Paman (Bagongan) Paman Paman Mang Mamang Paman
Salah (Bagongan) Salah Salo Salah Salah Salah
Sewang (Bagongan) Sewong Sawong - Sewang / Ewang Seorang (Masing-masing)
  • Dialek Pekaleran digunakan di wilayah Kabupaten Majalengka wilayah Utara, oleh karenanya disebut Pekaleran (Sebelah Utara), wilayah utama penggunanya ada di Kecamatan Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya, sementara wilayah sekitarnya seperti Kecamatan Leuwimunding, Palasah, Jatiwangi, Dawuan, Kasokandel, Sukahaji dan Sindang merupakan wilayah percampuran antara Bahasa Sunda dialek Majalengka dengan Bahasa Cirebon dan Banyumasan yang dikenal dengan Bahasa Jawareh (Jawa Sewareh) atau Jawa Setengah.

Daftar Pustaka

  1. ^ Tim Penyusun Disparbud Prov. Jawa Barat. 2011. "Peta Budaya Provinsi Jawa Barat". Bandung : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat
  2. ^ Nurfaidah, Dedeh. 2008. "Basa Sunda Dialék Majalengka di Kacamatan Sukahaji". Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
  3. ^ Sudjana, TD. 2005. "Kamus Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
  4. ^ Wulandari, Sri(Penyanyi Cirebonan). 2011. "Prefix A – Change from Middle to Modern Cirebonese (A case study of Serat Catur Kandha as a midlle Cirebonese texts and Nguntal Negara as a modern Cirebonese text)". Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
  5. ^ a b c d Menimbang-nimbang Bahasa Cirebon(Edisi Tahun 2009)
  6. ^ Amaliya. 2010. Alasan Politiklah Sebabnya. Bandung : Pikiran Rakyat
  7. ^ Amaliya. 2010. Alasan Politiklah Sebabnya. Bandung : Pikiran Rakyat
  8. ^ Tim Penyusun Disparbud Prov. Jawa Barat. 2011. "Peta Budaya Provinsi Jawa Barat". Bandung : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat
  9. ^ Nurfaidah, Dedeh. 2008. "Basa Sunda Dialék Majalengka di Kacamatan Sukahaji". Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
  10. ^ Sudjana, TD. 2005. "Kamus Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
  11. ^ Wulandari, Sri(Penyanyi Cirebonan). 2011. "Prefix A – Change from Middle to Modern Cirebonese (A case study of Serat Catur Kandha as a midlle Cirebonese texts and Nguntal Negara as a modern Cirebonese text)". Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
  12. ^ Amaliya. 2010. Alasan Politiklah Sebabnya. Bandung : Pikiran Rakyat
  13. ^ Amaliya. 2010. Alasan Politiklah Sebabnya. Bandung : Pikiran Rakyat
  14. ^ Rosidi, Ajip. 2010. "Bahasa Cirebon dan Bahasa Indramayu". : Pikiran Rakyat
  15. ^ Salana. 2002. "Wyakarana : Tata Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
  16. ^ Sudjana, TD. 2005. "Kamus Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
  17. ^ Sudibyo YS, Nurochman. 2011. "Bahasa Jawa Pantura Tak Terpeta, Lagu-lagunya Merambah Nusantara" : Surabaya. Kongres Bahasa Jawa
  18. ^ Tayudi. 2010. "Kamus Bahasa Indramayu" : tayudic.blogspot.com
  19. ^ Tayudi. 2010. "Kamus Bahasa Indramayu" : tayudic.blogspot.com
  20. ^ Nieza. "Jalan-Jalan Ke Cirebon Sega Jamblang Sampai Batik Trusmian" : PT Gramedia Pustaka Utama
  21. ^ Nieza. "Jalan-Jalan Ke Cirebon Sega Jamblang Sampai Batik Trusmian" : PT Gramedia Pustaka Utama
  22. ^ Noer, Nurdin M. "Wayang Kulit Di Mata Matthew Isaac Cohen" : Pikiran Rakyat

Kosakata

Sebagian besar kosakata asli dari bahasa ini tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta/Yogyakarta) baik secara morfologi maupun fonetik. Memang bahasa Cirebon yang dipergunakan di Cirebon dengan di Indramayu itu meskipun termasuk bahasa Jawa, mempunyai perbedaan cukup besar dengan “bahasa Jawa baku”, yaitu bahasa yang diajarkan di sekolah-sekolah yang berpegang kepada bahasa Jawa Solo. Dengan demikian, sebelum 1970-an, buku-buku pelajaran dari Solo tak dapat digunakan karena terlalu sukar bagi para murid (dan mungkin juga gurunya). Oleh karena itu, pada 1970-an, buku pelajaran itu diganti dengan buku pelajaran bahasa Sunda yang dianggap akan lebih mudah dimengerti karena para pemakai bahasa Sunda “lebih dekat”. Akan tetapi, ternyata kebijaksanaan itu pun tidak tepat sehingga muncul gerakan untuk menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan di wilayahnya, yaitu Bahasa Jawa dialek Cirebon. [1] namun penerbitan buku penujang pelajaran bahasa daerah yang terjadi tahun selanjutnya tidak mencantumkan kata "Bahasa Jawa dialek Cirebon" lagi, akan tetapi hanya menggunakan kata "Bahasa Cirebon" hal ini seperti yang telah dilakukan pada penerbitan buku penunjang pelajaran bahasa cirebon pada tahun 2001 dan 2002. "Kamus Bahasa Cirebon" yang ditulis oleh Sudjana sudah tidak mencantumkan Kata "Bahasa Jawa dialek Cirebon" namun hanya "Kamus Bahasa Cirebon" begitu juga penerbitan "Wyakarana - Tata Bahasa Cirebon" pada tahun 2002 yang tidak mununjukan lagi keberadaan Bahasa Cirebon sebagai bagian dari Bahasa Jawa, namun menunjukan eksistensi Bahasa Cirebon sebagai bahasa yang mandiri.

Perbandingan Bahasa Cirebon Bagongan (Bahasa Rakyat)

Berikut merupakan perbandingan antara bahasa Cirebon dengan bahasa lainnya yang dianggap serumpun, yaitu bahasa Jawa Serang (Jawa Banten), Bahasa Jawa dialek Tegal dan Pemalangan serta Bahasa Jawa Baku (dialek Surakarta - Yogyakarta) dalam level Bagongan atau Bahasa Rakyat.
Banten Utara Cirebonan & Dermayon[2] Banyumasan Tegal, Brebes Pemalang Solo/Jogja Indonesia
kita kita/reang/isun inyong/nyong inyong/nyong nyong aku aku/saya
sire sira rika koen koe kowe kamu
pisan pisan banget nemen/temen nemen/temen/teo tenan sangat
keprimen kepriben/kepriwe kepriwe kepriben/priben/pribe keprimen/kepriben/primen/prime/priben/pribe piye/kepriye bagaimana
ore ora/beli ora ora/belih ora ora tidak
manjing manjing mlebu manjing/mlebu manjing/mlebu mlebu masuk
arep arep/pan arep pan pan/pen/ape/pak arep akan
sake sing sekang sing kadi/kading seko dari
kelambi Kelambi Kelambi Kelambi Kelambi Kelambi Pakaian
Kulon Kulon Kulon Kulon Kulon Kulon Barat
Tuku Tuku Tuku Tuku Tuku Tuku Beli
Durung Durung Durung Durung Durung Durung Belum
Kependak Kepetuk Kepetuk Kepetuk Ketemu
Bertemu
Bise Bisa Bisa Bisa Biso Iso Bisa
Lan Lan Lan Lan Lan Lan Dan
Teke Teka Teka Teka Teka Teka Datang
Kare Karo Karo Karo Karo Karo Dengan
Entek Entek / Kasepan* Entek Entek Entek Entek Habis (* kasepan = kehabisan barang karena terlambat datang)

Perbandingan Bahasa Cirebon Bebasan (Bahasa Halus)

Berikut ini adalah perbandingan antara bebasan (Bahasa Halus) Cirebon, bebasan Pemalangan, dengan bebasan Serang (Jawa Banten)
Banten Utara Cirebonan & Dermayon[3] Pemalangan/Tegalan Indonesia
Kasih Jeneng Jeneng/nami/asmi Nama
Boten Boten Mboten Tidak
Teteh Rara/Yayu Mbak/mbakyu Kakak perempuan (mbak)
Koh/iku/puniku Kuh/puniku Puniku/niku Itu
Kepetuk Kapanggih Kepanggih Ketemu
Iki Kih Niki Ini
nggih Inggih Inggih/nggih Ya
Ugi Ugi Ugi Juga
Kelipun Punapa Kenging nopo Kenapa
Hampura Hampura Ngampunten Maaf
Sege Sekul Sekul Nasi
Linggar Kesah Tindak/kesah Pergi
Darbe Gadah Kagungan Punya
Seniki Seniki Sakniki Sekarang
Matur nuhun Matur nuwun/kesuwun Matur nuwun Terima kasih
Ayun ning pundi Bade pundi Bade teng pundi Mau kemana?
Pasar Peken Peken Pasar
Salah Sawon Salah Salah
Kule Kula Kulo Saya
Uning Uning Ngertos Tahu
Bangkit Saged Saged Bisa
Napik Sampun Ampun Jangan
Nire Sampeyan / Panjenengan Njenengan Anda
Cepe Capeh Terose Kata
Gelem Bade Bade Mau
Sare Kilem Tilem Tidur
Mantuk Wangsul Wangsul Pulang
Saos Mawon Mawon Saja
Wau Wau Wau Tadi
Kepetuk Kapanggih Kepanggih Ketemu
Maler Maksih Taseh Masih

Kamus Bahasa Indonesia - Cirebon

Berikut adalah Kamus yang berisi kosakata bahasa Cirebon Bagongan, Bahasa Cirebon Bebasan, Indramayu Ngoko dan Indramayu Krama (Masyarakat Indramayu menyebut Bahasa Bagongan dengan sebutan Bagongan atau Ngoko dan Bebasan dengan sebutan Krama atau Besiken[4]) serta terjemahannya dalam Bahasa Indonesia
Cirebon Bagongan Cirebon Bebasan dialek Indramayu Bagongan / Ngoko[5] dialek Indramayu Krama / Besiken[6] Bahasa Indonesia Penjelasan
Abad ? Abad Lestantum Abad
Abang Abrit Abang Abrit Merah
Abot ? Abot Awrat Berat
Adi
Adi
Adik (Secara Umum Laki-Laki dan Perempuan)
Nang / Enang Ayi Nang Rayi Adik (Laki-Laki)
Neng / Eneng Yayi Neng Yayi Adik (Perempuan)
Adoh Tebih Adoh Tebih Jauh
Adol Sadean Adol Sadean Dagang
Adu Aben Adu Aben Adu
Adus Siram Adus Siram Mandi
Adhem ? Adhem Asrep Sejuk
Agama Agami Agama Agami Agama
Aja Sampun

Jangan (Sampun teng Riku! = "Jangan Disitu!"
Akeh Katah Akeh Katah Banyak
Kakang Raka Kakang Raka Kakak Laki-Laki
Aki Ki Kaki ? Kakek
Aku Akên

Aku (Mengaku) ngaken (mengaku)
Alas / Luwung Wana Alas Wana Hutan
Alih ?

Pindah (Ingsun sampun ngalih teng Kuningan = Saya sudah pindah ke Kuningan)
Amarga Amargi

Akibat (amargi ingsun mboten uning kepripun pakemipun basa Bebasan Cirebon ingkang leres = akibatnya saya tidak tahu bagaimana peraturan bahasa Bebasan Cirebon yang benar)
Aig / Age Aglis Cepet / Gage Enggal Segera
Amba Wiwir Amba Wiyar Luas
Ambir Supadon

Biar
Amit /Permisi ? Amit Nuwun Sewu Permisi
Ana Wenten Ana Wonten Ada
Angel Susah Angel Sesaha Susah
Angon Angen Angon Angen Gembala Ngangon Kebo (Menggembala Kerbau)
Angot ? Kumat Kimat Kambuh
Antarane Antawise Antarane Antawise Antaranya
Apa Punapa Apa Punapa Apa
Apik Sae Apik Sae Baik
Aran Jeneng / Asmi Aran Nami/Asmi Nama
Arep Ajeng Arep Ajeng Akan
Arep mendhi Bade pundi Arep mendhi / Garep Mendhi Bade pundi Mau ke mana?
Asli ? Asli Sesupe Asli
Asu ? Asu Segawon Anjing
Ati Manah Ati Manah Hati
Aturan Pakem

Aturan
Awan Siyang Awan Rina / Siang Siang
Awak Selira / Badan Awak Salira / Badan Badan
Ayam Sawung Ayam Sawung Ayam
Bae Mawon Bae Mawon Saja
Bagen Sanggine Bagen Kêrsanipun Biarkan
Bagus Sae Bagus Sae Bagus
Baka Menawi Baka Menawa Kalau
Balik Wangsul Balik Wangsul Pulang
Banyu Toya Banyu Toya Air
Bapak Rama Bapak Rama Bapak
Batur Rencang Batur Rencang Kawan
Banyu Toya Banyu Toya Air
Bari Kaliyan Bareng Sesarengan Bersama
Bawi ? Celeng Andhapan Babi
Bebek ? Bebek Kambangan Bebek
Belah Palih Belah Palih Sepalih (sebelah)
Beli / Ora Boten

Tidak
Bênêr Lêrês Bênêr Lêrês Benar
Bendrongan ?

Main Musik (Main Musik Dengan Alat Seadanya disebut "Bendrongan"
Bêngên Rumiyen Bêngên Rumiyin / Sengen Dahulu
Bêngi Dalu Bêngi Dalu Malam
Beras Uwos Beras Uwos Beras
Bobad ? Bobad
Bohong
Bocah / Anak Lare Anak Lare Anak
Bokat ?

Takut / Barangkali "aja ning ngerep nok..!!, bokat ketendang!" (jangan di depan nak!! (perempuan), Takut tertendang!) "isun arep ngulur batur-batur nang alun-alun, bokat bae ana mengkana" (saya hendak mencari anak-anak di alun-alun, barangkali saja ada di sana)
Bonggan ?

Awas! Digunakan ketika kesal pada sesuatu atau Menantang
Brêsi Rêsik Bersih Rêsik Bersih
Bubar Bibar Bubar Bibar Bubar
Bulit ?

Curang
Buri Wingking Buri / Guri Wingking Belakang Nang Buri, Teng Wingking (Di Belakang)
Buru-Buru Kêsusu Buru-Buru Bujêng-bujêng Tergesa-gesa
Buwang Bucal Buwang Bucal Buang / Melemparkan
Cangkêm Lêsan Cangkêm / Tutuk Lêsan Mulut
Caos Seba ? ? Menghadap / Menemui
Carita ? Crita Crios Cerita
Cêg ? Cêkêl Ngasta Pegang Cêgcêgan (Pegangan)
Cilik Alit Cilik Alit Kecil
Coba Cobi Coba Cobi Coba
Cungur / Irung ? Irung Grana Hidung
Cukur Paras Cukur Paras Cukur
Dadi Dados Dadi Dados Jadi
Dagang Sadean Dagang Sadean Dagang
Dake Gadah

Punya (Dapat)
Dalan Dêrmagi Dalan Marga Jalan
Dandan ? Dandan Dandos Berhias
Dawuk ?

Dewasa
Dêlêng Ningali Dêlêng Ningali / Mirsani Melihat
Dhadha Jaja Dhadha Jaja Dada
Damar Pandhêm Damar Pandam Lampu
Dêmên Tresna Dêmên Tresna Cinta
Dêmplon ?

Seksi
Dêngkul / Tur ? Dêngkul Jengku Lutut
Dewek Piyambêk

Sendiri
Di Di Di Dipun Di (Imbuhan) Cirebon Bebasan : "Dibarokahi", dialek Indramayu Krama : "Dipun Barokahi"
Dina Dintên Dina Dintên Hari (Sedinten-dinten = Sehari-hari)
Dolan ? Dolan ? Main
Dom Jarum Dom Jarum Jarum
Doyan Purun / Kersa Doyan Purun / Kersa Suka / Mau
Duit Yatra Duit Yatra Uang
Dulung Ndahari Dulang Ndahari Suap (Makan)
Durung Dêrêng Durung Dêrêng Belum
Duwe Gadah Duwe Gadah Punya
Duwur Inggil Duwur Inggil Tinggi
êling êmut êling êmut Ingat
êmbah êyang êmbah êyang Kakek-Nenek
Embuh Wikan Embuh Kirangan / Wikan Tidak Tahu
? ? Embun-embunan Pasundulan Embun-embun
Emong Boten Emong Mboten Tidak Mau
Enak Eca Enak Eca Enak
êndas Sirah

Kepala
êndhêp êndhap êndhêp / Cindek êndhap Pendek
êndi Pundi êndi Pundi Mana
êndog Tigan êndog Tigan Telur
êngko Ajeng

Nanti
ênom ênêm ênom ênêm / timur Muda
êntêk Têlas êntok Têlas Habis
Enteni ? Enteni Entosi Menunggu
Erti Ertos

Arti (Ngertos = Mengerti) (Basa Iku alat Komunikasi, Umpami panjenengan ngertos ya leres! = Bahasa itu alat komunikasi kalau anda mengerti ya bagus!)
Esuk Enjing Esuk Enjing Pagi
Etung Etang Etung Etang Hitung
Gajah Liman Gajah Liman Gajah
Gampang Gampil Gampang Gampil Mudah
Ganti Gantos Ganti Gantos Ganti
Gawa Bakta Gawa Bakta Bawa mbakta (Membawa), Gawaan / bektan (Barang Bawaan)
Gawe Damel Gawe Damel Kerja
Gedang Pisang

Pisang
Gede Ageng

Besar
Gêlêm Purun Gêlêm Purun Mau
Gelang Binggel Gelang Binggel Gelang
Gelung Ukel Gelung Ukel Gulung
Gemuyu Gemujeng Gemuyu Gemujeng Tertawa
Gen Ugi

Juga
Genap Jangkep Genap Jangkep Lengkap
Geni Brama Geni Brama Api
Gering / Kuru /Pêyang ? Gering Kera Kurus
Getek ?

Geli
Getih Rah Getih Rah Darah
Gigir Pêngkêran Gigir Pêngkêran Punggung
Godhong Ron Godhong Ron Daun
Golek ? Golek Pados Wayang Kayu (Golek)
Gugah Wungu Gugah Wungu Bangun
Gula Gêndis Gula Gêndis Gula
Gulu Jangga Gulu Jangga Leher
Gawean Damelan ? Guneman Pekerjaan
Guyon Gujêng Guyon Gujêng Bercanda Gegujengan (Bercandaan)
Idêp Ibing Idep Ibing Bulu Mata
Idu Kecoh Idu Kecoh Ludah
Iga ? Iga Unusan Iga
Ijo Ijêm Ijo Ijêm Hijau
Ilang Ical Ilang Ical Hilang
Ilat Lidah Ilat Lidah Lidah
Imbuh ? Imbuh Tanduk Tambahan
Inep ? Inep Sipeng Bermalam
Ingu Ingah Ingu Ingah Pelihara
Irêng Cêmêng Irêng Cêmêng Hitam
Isor Andhap Isor Andhap Bawah
Isin Lingsem Isin Lingsem Malu
Isun Ingsun / Kula Reang / Kita Kula Saya
Iwak Ulam Iwak Ulam Ikan
Iya Inggih Iya Inggih Ya
Jaga Raksa Jaga Reksa Jaga Njaga, Ngraksa (Menjaga)
Jago Sawung Jago Sawung Ayam Jago
Jagong Linggih Dodok Linggih Duduk
Jala Jambêt Jala Jambêt Jala
Jalir ? ? ? Pelacur
Jaluk Pundhut Jupuk / Jokot Pendhet Ambil
Jamu Jampi Jamu Jampi Jamu
Jaran ? Jaran Titihan Kuda
Jare Cape Jare Criyos Kata (Ucap) Cirebonan : "Cape sinten?" (Kata (ucap) siapa?)
Jenggot ? Jenggot Gumbala Jenggot
Jêriji ? Driji Racikan Jari
Jero Lebet Jero Lebet Dalam
Jingkat ? Kaget Kejot Terkejut
Joget ? Joged Beksa Goyang
Kabar / Warta Wartos Kabar / Warta Wartos Berita
Kabeh Sedantên Kabeh Sêdaya Semua
Kabênêran Kalêrêsan Kabêran Kêlêrêsan Kebetulan
Kaca
Kaca Paningalan Kaca
Kae Punika Kaen Punika Itu (Dekat dengan si Pembicara)
Kali / Lêpên Benawi Kali / Lêpên Benawi Sungai
Kalung ? Kalung Sangsangan Kalung
Kandha ? Kandha Sanjang Bercerita
Kanggo Kangge Kanggo Kangge Untuk
Karang Kawis Karang Kawis Karang
Karena Kêrantên

Karena
Kari Kantun Kari Kantun Sisa (Tinggal Terakhir) / Tertinggal / Terakhir Kantun-kantun (akhirnya)
Karo Kaliyan Karo Kaliyan Bersama Teng bioskop kalian sinten inggih? (Di bioskop bersama siapa, ya?)
Karo Sareng Karo
Dengan (Garam sareng Gendhis dicampur mawon Kang! = "Garam dengan Gula dicampur aja Kang!")
Katon Kêtingal Katon Kêtingal Dapat dilihat
Katok / Cangcut Lancing Katok Lancing Celana dalam
Kaweruh
Kaweruh Seserepan Pengetahuan
Kaya / ala-ala Kados Kaya Kados Seperti (Kados Mekoten = Sepeti Begitu / Seperti Itu)
Kayu Kajeng Kayu Kajeng Kayu
Kebanjur ? Kebanjur Kelajeng Tersiram
Kêbo ? Kêbo Maesa Kerbau
Kêdêr Ewed Kêdêr Ewed Bingung
Kelanjutan Kelanjêngan

Kelanjutan
Kelapa Kerambil Kelapa Kerambil Kelapa


Keliru Klentu Keliru
Kembang Sekar Kembang Sekar Bunga
Kêmit ?

Jaga (Tugas Jaga) Kêmit Desa (Orang yang menjaga Desa)
Kêmul Singep Kêmul Singep Selimut
Kên / Kahin / Jarit Sinjang Jarit Sinjang Kain
Kene Riki Kene Riki Sini
Kêponakan Kêpênakan Kêponakan Kêpênakan Keponakan
Kêpriben Kêpripun Kêpriben Kêpripun Bagaimana
Kêramas Jamas Kramas Jamas Keramas
Kêrasan / Bêtah ? Krasan Kraos Betah
Kêringet Riwe Kêringet Riwe Keringat
Kêris ? Keris Duwung Keris
Kêrtas Dalancang Kertas Dlancang Kertas Cirebonan : "Daluwang" (Kertas yang terbuat dari Kulit Kayu)
Kêtara
Ketara Ketawis Jelas
Kêtemu Kêpanggih Kêtemu Kêpanggih Bertemu
Kêtuwon ?

Percuma / tidak dilayani dengan baik
Kêyok ? Kalah Kawon Kalah Kekalahan (Cirebon : Kasoran)
Kie Puniki / Kih Enya / Kien Puniki / Niki Ini
Kijing Sekaran Kijing Sekaran Gilang Makam
Kira Kinten Kira Kinten Kira (Perkiraan) Kinten-Kinten (Kira-Kira)
Kirim Kintun Kirim Kintun Kirim
Klambi Rasukan Klambi Rasukan Pakaian
Kongkon Kengken Kongkon Kengken Suruh
Kuburan Pasarean Kuburan Pasarean Kuburan
Kudu / Mesthi Kedah Kudu Kedah Harus
Kuku ? Kuku Kenaka Kuku
Kulon Kulen / Kulwan Kulon Kulen Barat
Kumat
Kumat Kimat Kumat


Kumpul Kêmpal Kumpul
Kuna Kina Kuna
Kuno
Kuning Jener Kuning Jenar Kuning
Kuping Talinga Kuping Talingan Telinga
Kurang Kirang Kurang Kirang Kurang
Kuwasa
Kuwasa Kuwaos Kuasa


Kuwatir Kuwaos Khawatir
Kuwayang ?

Terbayang
Kuwe Kuh / Puniku Kuwen Kuh / Puniku Itu (Jauh dari si pembicara)
Lahiran ? Bayen ? Melahirkan
Lain Dudu / Sanes Dudu Sanes Bukan
Laka Botên wêntên Langka Botên wêntên Tidak Ada
Laki Jali

Suami
Lama Dangu Lawas Lami / Dangu Lama
Lamun Bilih

Seandainya
Lamun Umpami

Umpama
Lanang Jali / Jaler Lanang Jaler Laki-laki
Larang Hawis Larang Awis Mahal
Lenga Lisa

Minyak
Lenga Latung Lisa latung

Minyak tanah
Lêwih Langkung

Lebih
Lima Gangsal Lima Gangsal Lima
Lunga Kesah

Pergi
Lupa Lêpat Klalen Kesupen Lupa
Luru Ngilari

Cari
Luru Nggulati

Cari
Mabok Mêndhêm êndhêm Mêndhêm Mabuk
Maca Maos

Baca
Manfaat / Faedah Guna Manfaat / Faedah Gina Manfaat
Mangan Dahar

Makan
Mangkat Tindak

Berangkat
Maning Malih

Lagi
Manjing Mlebet

Masuk
Mata Soca

Mata
Mati Pejah

Mati
Mayid Laywan Jisim Layon Jenazah
Melu Milet

Ikut
Mencleng ?

Lompat
Mêngana Mrika

Kesana
Mênê Mriki

Kesini
Mêngkonon Mêngkotên

Begitu
Mêtu Medal

Keluar
Mlaku Mlampah

Berjalan
Mlayu Mlajeng

Lari
Mungkin ?

Mungkin
Nang / Ning Teng

Di (Tempat)
Nang Arep Teng Ajeng

Di Depan
Nang Isor Teng Andap

Di Bawah
Nang kana Teng Riku

Di situ
Nang Mendhi Teng Pundi

Dimana
Nini ? Nini ? Nenek
Ngaji Ngaos

Mengaji
Nginum Ngombe

Minum
Nguyu Nyeni

Kencing
Olih Angsal

Mendapat
Omong Gunêm Catur Ngendika Bicara
Pada Sami

Sama
Pada bae Sami mawon

Sama saja
Pancal ?

Tendang
Papat Sêkawan

Empat
Parêk Cakêt

Dekat
Pasar Pêkên

Pasar
Pate Padem

Padam
Pati Patos Pati Patos Terlalu Beli Pati Doyan (Tidak Terlalu Suka)
Payung Pajeng Payung Pajeng Payung
Pêrabot Pêranti Abah Pirantos Perabotan
Pêrcaya Pêrcantên

Percaya
Lawang Kontên Lawang Kontên Pintu Lawang arep (Pintu Depan), Lawang Gada (Pintu Gerbang)keramas
Pira Pintên

Berapa
Piring ? Ajang Ambeng Piring
Polah ?

oleh / laku akeh polah (banyak perlakuan, banyak tingkah)
Punten Hampura

Maaf
Purun ?

Mau Panjenengan purun?(kamu mau?)
Putih Pethak

Putih
Rabi / Kurên Istri Bojo Sema Istri Sekurên = Sejodoh
Rada Rabi

Agak Rada Manis (agak manis)
Rewel ?

Cerewet
Ro / Rua Kalih

Dua
Rungu Pireng Rungu Midhanget Dengar Ngrungu, Mireng (Mendengar)
Sabên Unggal

Setiap
Salah Sawon

Salah
Sambut Sambêt

Pinjam
Sapa Sintên

Siapa (Kaliyan Sinten? "Sama Siapa?")
Sawah Sabin

Sawah
Sedang Siweg

Sedang (Melakukan) (Siweg Punapa? "Sedang Apa")
Sega Sêkul

Nasi
Sejen Liya

Lain (Mangga diterasken Liya-liya ae = "Silahkan diteruskan lain-lainnya")
Sekien Sêniki

Sekarang
Sekiki Benjing Sukiki Benjing Besok
Senajan / Ari Menawi Ari Menawa Walau
Seneng Bungah Berag Bingah Senang
Setitik Sakedik

Sedikit
Siji Sêtunggal

Satu
Sira Panjenengan

Anda
Sira Panjênêngan Kowe / Sira Sampeyan / Panjenengan Kamu
Srog Mangga Enya Mangga Silahkan Ambil Cirebonan : "Ya Asrog (Silahkan Ambil)"
Suwe
Suwe Lami Lama
Ya Mangga Ayo / Elos Mangga Silahkan Cirebon : "Ya Asrog (Silahkan Ambil)"
Taken Dangu Takon Taken Tanya Andangu (Bertanya)
Tamu Sema

Tamu
Tanduk Singat Tanduk Singat Tanduk
Teka Dugi Teka Dugi Tiba
Telu Tiba ? ? Tiga
Terus Teras

Teruskan
Tua Sepuh

Tua
Tuku Tumbas

Beli
Tur Tunten Bacut Lajeng Selanjutnya
Turu Kilem / Tilem / Kulem

Tidur
Umah Griya

Rumah
Untap ?

Durhaka
Upai Sukani Upai Sukani Beri Ngupai, Nyukani (Memberi)
Urip Gesang

Hidup
Uwis Sampun

Sudah
Wadon Istri

Perempuan
Waktu Sela Waktu Waktos Waktu
Wanci Wayah

Saat
Wareg Tuwuk

Kenyang
Wong Tiyang

Orang
Wulan Sasi

Bulan
? Kajaba

Kecuali
? Lan

Dan
? Jentik

Kelingking
? Leb

Tutup "Dileb = Ditutup" (Penggunaan Pada "Pintu")
? Maksad

Maksud (Maksadipun = Maksudnya)
? Wiraos

Bicara
Belajar Sinau / Ginau Belajar Sinau Belajar
? Kah

Itu (dekat dari si pembicara)
? Waras

Sehat
? Bethek Adang Bethak Menanak Nasi
? Serat Jungkat Serat Serabut / Serat
kengulu kengulu Kengulu Kajang Bantal

Dialek Bahasa Cirebon

Menurut Nurdin M. Noer, Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon, Bahasa Cirebon memiliki setidaknya ada beberapa dialek, yakni Bahasa Cirebon dialek Dermayon atau yang dikenal sebagai Bahasa Indramayuan, Bahasa Cirebon dialek Jawareh (Jawa Sawareh) atau Bahasa Jawa Separuh, Bahasa Cirebon dialek Plered dan dialek Gegesik (Cirebon Barat wilayah Utara)

Bahasa Cirebon dialek Jawareh (Jawa Sawareh)

Dialek Jawareh atau disebut juga sebagai Jawa Sawareh (separuh) merupakan dialek dari Bahasa Cirebon yang berada disekitar perbatasan Kabupaten Cirebon dengan Brebes, atau sekitar Perbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kuningan. Dialek Jawareh ini merupakan gabungan dari separuh Bahasa Jawa dan separuh bahasa Sunda. [7]

Bahasa Cirebon dialek Dermayon

Dialek Dermayon merupakan dialek Bahasa Cirebon yang digunakan secara luas di wilayah Kabupaten Indramayu, menurut Metode Guiter, dialek Dermayon ini memiliki perbedaan sekitar 30% dengan Bahasa Cirebon sendiri. Ciri utama dari penutur dialek Dermayon adalah dengan menggunakan kata "Reang" sebagai sebutan untuk kata "Saya" dan bukannya menggunakan kata "Isun" seperti halnya yang digunakan oleh penutur Bahasa Cirebon.

Bahasa Cirebon dialek Plered (Cirebon Barat)

Dialek Plered merupakan dialek Bahasa Cirebon yang digunakan di wilayah sebelah barat Kabupaten Cirebon, dialek ini dikenal dengan cirinya yaitu penggunaan huruf "o" yang kental, misalkan pada Bahasa Cirebon standar menggunakan kata "Sira", dialek Kabupaten Cirebon bagian Barat ini menggunakan kata "Siro" untuk mengartikan "Kamu", kata "Apa" menjadi "Apo" dan Jendela menjadi "Jendelo" (ada juga yang menyebutnya dengan "Gendelo"). Penutur dialek yang menempati kawasan barat Kabupaten Cirebon ini lebih mengekspresikan dirinya dengan sebutan "Wong Cirebon", berbeda dengan Penduduk Kota Cirebon yang menggunakan Bahasa Cirebon standar (Sira) yang menyebut diri mereka sebagai "Tiang Grage", walaupun antara "Wong Cirebon" dan "Tiang Grage" memiliki arti yang sama, yaitu "Orang Cirebon" [8]

Parikan Cirebon dialek Plered (Pantun Cirebon)

Berbalas pantun atau Parikan dalam Bahasa Cirebon dialek Plered antara Widudung Hamdan, Sipo dan Wahyu Pawaka
Widudung Hamdan :
Uwoh srikayo di paih tawas...
Sambel trasi enak di pangan..
Kayo kayo atine kulo keloas.
Inget rabi langko ning iringan..

maso iyo, digawo-gawo menggawe

Sipo :
Angon wedus ning jagat dermayu
Pengen adus mung sayang langko banyu
Widudung Hamdan:
ano sego dimot ning kardus..
Tuku srabi oline combo..
Ang sipo bli usoh adus..
Daripado rabi bli ngengumbo..
Wahyu Pawaka :
Isuk-isuk tuku srabi...
Tukue bari ngajar layangan...
Usuk-isuk ngobrol rabi...
Gawe kesirian wong bujangan...
Widudung Hamdan:
Miyang meng grage tuku penganan..
Olih berkat iwak cemplunge ano sing ngicipi..
Mulane gen gage kawinan..
Engko mangkat menggawe ano sing ngambunge pipi...

adaaaaauuw...
Wahyu Pawaka :
Uler gendon ngereketi pelem...
Olih berkat olih apem...
Nonton wayang langka tarube...
Bocah wadon durung ana kang gelem...
Bokat ana kang gelem...
Hayuh miyang ning pak lebe...

hehee...
Widudung Hamdan:
Gawe adon-adon kanggo gawe apem..
Tukuh sarung plekat larang regane..
Duduh saking wadon bli gelem..
Saking durung niat bae lanange..

glegek ndipit...
akaka...

Bahasa Cirebon dialek Gegesik (Cirebon Barat wilayah Utara)

Dialek Gegesik merupakan dialek yang digunakan di wilayah Cirebon Barat wilayah Utara disekitar Kecamatan Gegesik, Bahasa Cirebon dialek Gegesik sering digunakan dalam bahasa pengantar Pewayangan oleh Dalang dari Cirebon dan kemungkinan dialek ini lebih halus ketimbang dialeknya "wong cirebon" sendiri. [9]

Perbandingan Dialek Bahasa Cirebon

Bahasa Cirebon Baku Dialek Indramayu Dialek Plered Dialek Ciwaringin Dialek Pekaleran* Indonesia
Ana (Bagongan) Ana Ano Ana Ana Ada
Apa (Bagongan) Apa Apo Apa Apa Apa
Bapak (Bagongan) Bapak ? Bapa / Mama Bapak Bapak
Beli (Bagongan) Ora Oro Beli / Ora Bli Tidak
Dulung (Bagongan) Dulang Dulung Muluk Suap Suap (Makan)
Elok (Bagongan) Sokat Lok Sok Ilok Pernah
Isun (Bagongan) Reang Isun Isun / Kita Nyong / Kita Saya
Kula (Bebasan) Kula Kulo Kula Kula Saya
Lagi apa? (Bagongan) Lagi apa? Deng apo? Lagi Apa Lagi Apa Sedang apa?
Laka (Bagongan) Laka Lako Laka Laka / langka Tidak ada
Paman (Bagongan) Paman Paman Mang Mamang Paman
Salah (Bagongan) Salah Salo Salah Salah Salah
Sewang (Bagongan) Sewong Sawong - Sewang / Ewang Seorang (Masing-masing)
  • Dialek Pekaleran digunakan di wilayah Kabupaten Majalengka wilayah Utara, oleh karenanya disebut Pekaleran (Sebelah Utara), wilayah utama penggunanya ada di Kecamatan Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya, sementara wilayah sekitarnya seperti Kecamatan Leuwimunding, Palasah, Jatiwangi, Dawuan, Kasokandel, Sukahaji dan Sindang merupakan wilayah percampuran antara Bahasa Sunda dialek Majalengka dengan Bahasa Cirebon dan Banyumasan yang dikenal dengan Bahasa Jawareh (Jawa Sewareh) atau Jawa Setengah.

Daftar Pustaka

  1. ^ Tim Penyusun Disparbud Prov. Jawa Barat. 2011. "Peta Budaya Provinsi Jawa Barat". Bandung : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat
  2. ^ Nurfaidah, Dedeh. 2008. "Basa Sunda Dialék Majalengka di Kacamatan Sukahaji". Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
  3. ^ Sudjana, TD. 2005. "Kamus Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
  4. ^ Wulandari, Sri(Penyanyi Cirebonan). 2011. "Prefix A – Change from Middle to Modern Cirebonese (A case study of Serat Catur Kandha as a midlle Cirebonese texts and Nguntal Negara as a modern Cirebonese text)". Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
  5. ^ a b c d Menimbang-nimbang Bahasa Cirebon(Edisi Tahun 2009)
  6. ^ Amaliya. 2010. Alasan Politiklah Sebabnya. Bandung : Pikiran Rakyat
  7. ^ Amaliya. 2010. Alasan Politiklah Sebabnya. Bandung : Pikiran Rakyat
  8. ^ Tim Penyusun Disparbud Prov. Jawa Barat. 2011. "Peta Budaya Provinsi Jawa Barat". Bandung : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat
  9. ^ Nurfaidah, Dedeh. 2008. "Basa Sunda Dialék Majalengka di Kacamatan Sukahaji". Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
  10. ^ Sudjana, TD. 2005. "Kamus Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
  11. ^ Wulandari, Sri(Penyanyi Cirebonan). 2011. "Prefix A – Change from Middle to Modern Cirebonese (A case study of Serat Catur Kandha as a midlle Cirebonese texts and Nguntal Negara as a modern Cirebonese text)". Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
  12. ^ Amaliya. 2010. Alasan Politiklah Sebabnya. Bandung : Pikiran Rakyat
  13. ^ Amaliya. 2010. Alasan Politiklah Sebabnya. Bandung : Pikiran Rakyat
  14. ^ Rosidi, Ajip. 2010. "Bahasa Cirebon dan Bahasa Indramayu". : Pikiran Rakyat
  15. ^ Salana. 2002. "Wyakarana : Tata Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
  16. ^ Sudjana, TD. 2005. "Kamus Bahasa Cirebon". Bandung : Humaniora Utama Press
  17. ^ Sudibyo YS, Nurochman. 2011. "Bahasa Jawa Pantura Tak Terpeta, Lagu-lagunya Merambah Nusantara" : Surabaya. Kongres Bahasa Jawa
  18. ^ Tayudi. 2010. "Kamus Bahasa Indramayu" : tayudic.blogspot.com
  19. ^ Tayudi. 2010. "Kamus Bahasa Indramayu" : tayudic.blogspot.com
  20. ^ Nieza. "Jalan-Jalan Ke Cirebon Sega Jamblang Sampai Batik Trusmian" : PT Gramedia Pustaka Utama
  21. ^ Nieza. "Jalan-Jalan Ke Cirebon Sega Jamblang Sampai Batik Trusmian" : PT Gramedia Pustaka Utama
  22. ^ Noer, Nurdin M. "Wayang Kulit Di Mata Matthew Isaac Cohen" : Pikiran Rakyat
READ MORE - Basa CherBond Read more...

Anggota ***.omamato.**

  ©Template by Blogger . Design By Tips dan Trik Blog